• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Buku>Bertahan Hidup Di Pinggiran Kota Emas Hitam

.

Bertahan Hidup Di Pinggiran Kota Emas Hitam

oleh : wandie     

Pengarang : Iswandi

* Kehidupan Sakai Memprihatinkan
Duri, RR- Kurangnya perhatian Pemerintah selama ini terhadap Komunitas Masyarakat
Sakai yang menyebar pada Tiga titik di Wilayah Kecamatan Mandau dan Kecamatan Pinggir, Bengkalis dirasakan dan dan sangat disayangkan Ketua Suku Bathin Betuah Duri, Abdul Karim. Hal tersebut diakatakan kepada Radar Baru-baru ini.
Menurutnya, sejauh ini belum begitu banyak Pembangunan yang secara langsung dirasakan dan menyentuh kepada masyarakat suku Sakai. Buktinya, masyarakat Sakai yang terus berada di bawah garis kemiskinan, kemelaratan dan kebodohan. Apalagi setelah hutan punah ranah dan sungai tidak lagi menjanjikan yang merupakan tempat mereka menjaring dan menggantungkan harapan. Tapi Komunitas masyarakat Sakai masih terus bertahan melanjutkan kehidupan di sudut dan pinggiran Daerah No. 2 sebagai pengahasil Emas Hitam di Republik ini, terang Pak Karim sapaan akrabnya nada kecewa.
Diuraikannya, dari catatan Abdul Karim, masyarakat Sakai yang bermukim di Kecamatan Mandau, Pinggir, Kandis dan Minas mencapai 2050 Kepala keluarga (KK) dengan total jiwa 9560 orang. Tujuh belas Tahun kemudian, pertumbuhan sudah sangat tinggi dengan tidak merinci berapa jumlah pastinya.
Masyarakat Sakai yang tersebar di Wilayah Negeri Junjungan itu yakni, di Kecamatan Mandau dan Pinggir memang sangat memprihatinkan hidup dan penghidupannya. Contohnya, Komunitas masyarakat Sakai yang bermukim di Rumah sangat sederhana dari Bantuan Pemkab Bengkalis yang beralamat di Jalan Gajah Mada Km 28 dalam, Desa Tasik Serai hingga hari ini masih mengkonsumsi Ubi Beracun dengan kata lain “Menggalo” sebagai makanan pokok. Hal itu disebabkan, “Mereka tidak punya uang untuk membeli Beras”. “sebetulnya kami sakai lebih suka makan nasi dari pada Menggalo. Tapi karena tak punya Duit elok makan Ubi Racun untuk mengganjal Perut”. “Macom manolah kami ko orang bodoh membaca pun tidak pandai, ujar Anas salah satu warga Sakai sambil membersihkan Ingus Anak Perempuannya dengan Jemari Tangan yang masih Balita di Pangkuannya.
Meski Hidup dan Penghidupan Komunitas masyarakat Sakai tidak lagi berpindah-pindah atau sistim huma. Tapi mata pencaharian mereka masih mencari hasil Hutan dan menjadi Nelayan Tradisioanal walau Rotan dan Damar serta Ikan sudah tidak lagi menjanjikan. Sebuah realita kehidupan yang tidak bisa dipungkiri ditengah-tengah SDA yang berlimpah ruah.
Untuk itu perlu niat baik dan ketulusan hati dari Para Pengambil Kebijakan di Tanah Melayu yang Katanya, halus budi tuturnya dan lemah, lembut perasaannya, dalam rangka mengangkat hidup dan penghidupan sakai kearah yang lebih baik. Apatah lagi Jumlah Komunitas Masyarakat Sakai itu tidaklah begitu banyak. Dan bila dibandingkan dengan Besarnya Dana APBD Bengkalis dan Dana APBD Provinsi Riau. Lalu, baru berapa persenlah Anggarannya bila digunakan untuk mengangkat Perekonomian Masyarakat sakai misalnya dengan membangun Perkebunan Sawit. Semua itu, tergantung Niat baik dan ketulusan hati, semoga. (Lbs)
Diterbitkan di: Mei 27, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.