Halaman Utama Shvoong > Buku > Dosa Dosa Media Amerika

.

Dosa Dosa Media Amerika

Summary rating: 3 stars 5 Tinjauan
Pengarang : Jerry D Gray
Ringkasan oleh : jurnalis
Kunjungan: 43
kata: 900
Diterbitkan di: April 20, 2008

"Tidak boleh berhenti mencari kebenaran sejati. Karena kebenaran semu hanyalah argumen hipotesis yang dilontarkan para pemegang kekuasaan. Jangan takut menilai dan jangan berhenti bertanya," begitu pesan Pemimpin Redaksi RCTI, Arief Suditomo.

"Ada lima kebohongan media. Pertama, membesarkan atau mengecilkan data. Peristiwa ada, cuma

disajikan besar dan kecil sesuai maunya media. Kedua, memberitakan yang tak pernah ada. Ketiga, tidak memberitakan apa sebenarnya terjadi. Good

news bagi media selalu memilih bad news. Empat, mengelabui agenda publik dengan membombardir agenda media. Lima, meyakinkan publik bahwa mereka

sedang tidak berbohong. Pesan saya, jangan sudi dibohongi lagi," pesan Pakar Komunikasi, Effendi Gazali.?Dua pesan di atas terdapat dari

pengantar buku ini. Pertama dari praktisi media, kedua pakar komunikasi.

Keduanya punya apresiasi yang cukup berwarna terhadap buku yang ditulis Jerry D Gray ini. Benar pesan mereka. Sejak kebebasan pers di negeri ini

buncah dari rahim reformasi, pers tumbuh bak cendawan di musim hujan. Simaklah program berita dan dialog di televisi, setiap hari kita

disuguhkan dengan sangat terpaksa harus kita tonton dimana channel dipencet ibu jari.

Ada jurnalisme yang tak jelas "kelaminnya", karena yang dikejar hanyalah publik figur dan kehidupan pribadi tokoh semata. Kita tak tahu apa sebenarnya di balik berita dan narasi yang terkesan dipaksakan

itu. Jangan-jangan rekayasa demi mendongkrak popularitas dan pendekatan publik relation paling mutakhir saja. ?Kali lain, darah dan air mata.

Peluru dan penjahat setiap hari menjadi berita. Kita tak tahu ada rekayasa apa dari gambar-gambar yang selalu bisa menjelaskan kaki penjahat

ditembak. Jitunya tembakan, sehingga yang tertembak selalu bagian kaki dan otot belakang betis. ?Setidaknya begitulah yang harus dikritisi

pada media hari ini. Termasuk media cetak. Keingintahuan apa sebenarnya terjadi dalam proses berita disiarkan, dituliskan, harus pula menjadi

bagian informasi yang diketahui. Oleh karenanya pesan dua tokoh pada awal resensi ini menjadi amat tepat untuk diarifi. Seperti dikatakan,

menyampaikan kebenaran dalam sebuah berita sering terkendala seribu satu faktor.

Buku yang ditulis Jerry D Gray ini membuka cakrawala kita tentang fakta tersembunyi kejahatan media barat pada saat ini. Dari media yang terkenal sampai media yang tak terkenal. ?"Menjadi pemikir

independen memang tak mudah. Di zaman modern ini, kongkalikong pemerintah-media memang tidak sampai membunuh orang yang berusaha mengangkat kebenaran.

Dalam kondisi seperti ini, jurnalis sejati yang senantiasa menyampaikan kebenaran, seolah menjadi makhluk langka. Pers objektif dan tidak berat

sebelah pun seakan mati suri. Padahal tujuan utama jurnalisme adalah menyediakan informasi yang akurat dan terandalkan."?Apa yang dikatakan

Jerry bukanlah omong kosong. Pendapat yang lahir melalui riset bertahun-tahun ini setidaknya membuka mata kita terhadap media di negeri ini.

Dari sinilah kita akan sadar betapa dahsyatnya kebebasan pers tersebut. Seperti kita dengan telanjang melihat watergate. ?Manipulasi data,

distorsi, kebohongan, kesalahan informasi akibat koridor jurnalisme kerap dilanggar akan kelihatan jika masyarakat memahami seluk beluk media. Di

sinilah bakal lahir kepercayaan dengan tingkat yang lebih tinggi dalam keakuratan data dan fakta dituntut kepada media.?Membaca buku ini tak

terasa digurui oleh Jerry. Ia menyampaikan dengan bahasa yang akrab dan memiliki fakta yang bisa ditelusuri oleh pembaca pada saat ini juga.

Mulai dari mesin pencari google.com sampai situs-situs yang dilacak langsung.

Meski banyak memberikan kenyataan media di negeri Paman Sam, Gerry sebenarnya memberikan kejujuran atas persoalan yang dihadapi jurnalis dalam menghadapi hegemoni kekuasaan bisnis. ?Tak lupa pada akhir

buku ia memberikan pemahaman prinsip jurnalisme, yaitu Mengungkapkan kebenaran; Loyalitas terhadap masyarakat; Esensi jurnalistik ada pada

disiplin memverifikasi; Mandiri terhadap peristiwa yang diliput; Berperan sebagai pengawas independen bagi kekuasaan; Memberikan forum bagi kritik

dan kompromi publik; Karya jurnalistik harus menarik dan relevan; Berita harus komperehensif dan proporsional; Memberi ruang terhadap pikiran

sendiri sebagai tanggung jawab dan etika. ?Sungguh. Buku ini harus dibaca oleh siapa saja agar setiap informasi dapat dimaknai selayaknya

dan tidak cepat percaya. Setelah membacanya, yakinlah Anda akan nilai kritis muncul terhadap media. Salam.<>




Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie
  • HooNanz

.