PERNAHKAH anda mengalami hal-hal aneh, menggelikan, lucu, menjengkelkan, sepertinya tak mungkin, atau bahkan absurd dalam hidup anda? (Sesobek Kertas di Sepatu Kiri, hal. 145) Kalau pernah, tulislah. Sekedar berbagi menggambarkannya menjadi kata-kata. Tentu saja menjadi cerita yang renyah dibaca.
Nah, Kumpulan Cerpen (Cerpen) ini sebuah bukti dari kemungkinan dalam kehidupan bagi penulisnya. Membeberkan peristiwa dan mengaduk dalam kawah imajinasi yang teramat panas.
Atas keseriusannya, belasan cerpen terkumpul menjadi buku yang bertajuk Sesobek Kertas di Sepatu Kiri ini---buku kedua bagi penulisnya. Bila ditelusuri dengan pembacaan yang sedikit mendalam, segera ditemukan, sang penulis mengumpulkan ide-ide kecil seperti "koma", getaran (vibra), warna biru dan lain sebagainya. Ide itu ditemukan dalam seluruh cerita yang ada. Kalimatnya menarik, idenya unik terselip menjadi kenakalan dan kelakar yang matang.
Sejauh ini, pencapaian sastra sudah amat berhasil untuk seumuran penulis buku ini. Bisa jadi karena ia sudah akrab dengan pekerjaan "olah kata". Buktinya, judul-judul cerpen yang dibuat, selain yang sudah disebutkan tadi, ada "aku dan katak sebuah koma, apakah cinta berwarna biru, gadis berbadan dua, perempuan satu payudara dan sang penggetar paha.
Ceritanya biasa-biasa saja. Tentang kita dan dunia. Hanya saja, kenakalan penulislah yang membuat buku ini sedikit "ngeh" untuk dibaca.
"Eksplorasi imajinasi, mungkin bisa digambarkan layaknya ketajaman pisau dihadapkan pada sebuah apel yang disayat selapis demi selapis untuk mengelupas kulitnya dan mengetahui bagaimana isinya lewat penampang melintang atau sebaliknya," Kata Langit Kresna Hariadi dalam Pengantar buku ini.
Benar adanya. Beberapa kejutan dalam kalimat cukup berhasil. Misalnya, "di zaman yang tak setia, masih adakah kesetiaan? Kantong matanya yang membesar menampakkan kelelahan hidup yang enggan". Kalimat-kalimat seperti ini acap ditemui di sela-sela cerita terasa biasa-biasa itu.
"Di ujung telepon sana, saya dengar suara laki-laki yang ramah. Dan dia mengatakan; mencintai saya, hiii..." begitu salah satu cerpennya. Agaknya, penulis buku ini amat jujur setiap pergulatan hidup yang dilalui. Ia dramakan dalam kata. Sungguh sebuah buku yang patut dibaca untuk memperkaya hati.<>