Masa remaja adalah masa pencarian jati diri yang rawan. Dibutuhkan bimbingan yang maksimal dari orang tua agar tidak terjerumus dalam yang perilaku negatif untuk masa depan. Tetapi, apa yang terjadi jika orang tua tidak mampu membimbing? Atau justru orang tua yang lebih parah dari mereka yang sedang mencari jati diri? Inilah yang terjadi pada Richard. Masa kecilnya hingga remajanya sangat kelabu. Ia tuangkan kedalam catatan harian yang teramat miris. Catatan harian itu diberi tajuk A Teenager's Journey.
Buku ini mencatat rentetan kejadian mengerikan dalam proses kedewasaan. Masa kecilnya hancur akibat siksaan ibunya yang alkoholik dan mengidap gangguan jiwa, dan masa remajanya kacau saat Richard---sama seperti remaja umumnya---- mulai berkenalan dengan alkohol. narkoba dan seks. Ketiga hal tersebut membantu untuk melarikan dairi dari kenyataan; dari rasa malu yang selama ini dibawa-bawanya, juga ketakutan dan emosi yang tak mampu dipahami atau diatasinya. I amenerjukan diri dengan sepenuh hati ke dalam dunia penuh racun yang hanya mempunyai satu jalan keluar: bunuh diri.
Lika-liku panjang itu membuat ia harus jatuh bangun hidup dari satu tempat ke tempat lain, dari teror yang satu teror yang lain. Sampai harus kehilangan orang-orang yang dicintai. Dan kesendirian sangat menakutkan. Tidak ada orang yang mengerti dan dekat dengan diri sangat menyiksa. Sungguh, buku ini mengedepankan sisi gelap seseorang yang patut dipahami sebagai pengalaman berharga.
Ini bukan novel sastra, tetapi ia lebih katarsis dari cerita yang pernah ada. A Teenager's Journey merupakan perjuangan melepas trauma masa kecil dan keluar dari siklus penghancuran diri yang dilakukan, untuk kemudian memlaui perjalanan menuju kebebasan. Berhasilkah Richar? Ada baiknya pembaca menelusuri buku ini dengan khidmat sebagai cermin pengalaman yang sungguh luar biasa. Selamat membaca. <>
Resensi lain tentang A Teenager's Journey