Anak
itu berbicara, suaranya seperti tercekik.
“Aku memerintahkanmu….untuk…untuk….” Ya ampun, cepatlah! ”M-m memberitahuku
n-namamu.”
Begitulah biasanya mereka memulai, para penyihir muda ini. Ocehan yang
tidak berarti.
Itulah pertemuan pertama
si Bartimaeus,
jin yang berusia 5000 tahun
dengan master barunya, Nathaniel, yang baru berumur 12 tahun.
Berlatar di London,”The Bartimaeus Trilogy” bercerita tentang para penyihir
yang kala itu berkuasa di dalam kerajaan Inggris beserta hubungan mereka dengan
para mahluk halus ; jin, demon, foliot, imp, sebagai budak mereka.
Buku satu : Amulet
Samarkand.
Karena ingin membalas dendam setelah dipermalukan oleh penyihir yang lebih
senior; bernama Simon Lovelace, Nanthaniel si penyihir muda yang telah
menguasai lebih banyak ilmu sihir tanpa sepengetahuan masternya, memerintahkan
Bartimaeus untuk mencuri suatu amulet dari kediaman si penyihir senior.
Simon Lovelace sendiri, dengan kemampuan
dan kedudukannya yang tinggi,
membuat pencurian tersebut menjadi tidak mudah bagi Bartimaeus. Rumahnya
dilindungi dengan proteksi sihir yang berlapis-lapis beserta penjagaan
mahluk-mahluk halus yang tidak mudah ditaklukan. Bahkan beberapa di antaranya
adalah ”musuh” lama Bartimaeus, salah satunya adalah Faquarl, jin tangguh yang
tidak pernah dianggap remeh oleh Bartimaeus.
Dari peristiwa pencurian itulah segala sesuatunya dimulai, termasuk segala
intrik antar penyihir untuk berebut kekuasaan, yang tanpa disadari telah
berakibat kematian orang yang berharga bagi Nanthaniel.
Bartimaeus, meskipun super jayus dan jahil, merupakan jin yang
tangkas dan cerdik. Berulang kali dia lolos dari kematian karena
ketangkasannya. Berbeda dengan jin kebanyakan, Bartimaeus bisa disebut sebagai
jin yang memiliki hati, yang membuat dia memiliki hubungan yang rekat dengan
beberapa masternya, termasuk nantinya si Nathaniel.
”Menghibur banget!” itu yang kesan yang paling kuat setelah membaca buku
satu ini. Komentar-komentar dan tingkah laku si Bartimaeus (dan pastikan untuk
tidak melewatkan satupun footnote)
merupakan sumber utama asyiknya buku ini. Kemampuan penulis untuk
menghubungankan si Jin dengan banyak peristiwa dan tokoh besar jaman dahulu
(seperti raja Solomon, Cleopatra) memperkaya bahan imajinasi kita; termasuk
salah satunya kisah : Genie in the bottle-nya
si Aladin (si Bartimaeus tuh, jin-nya!). Tapi semua itu juga tidak lain karena
kemahiran si penterjemah buku-buku itu; Poppy Damayanti.
My Favourite Bartimaeus’s footnotes :
” Seorang penyihir pernah menyuruhku menampakkan cinta sejatinya. Aku
menampilkan bayangan cermin yang kabur”" ...Pikirkan saja seperti ini: aku dapat membaca buku yang berisi empat cerita yang diketik bertumpukan, dan menyerap semua cerita itu hanya dengan satu sapuan mata bersamaan. Sementara kau cuma bisa membaca catatan kaki"
Resensi lain tentang The Bartimaeus Trilogy (Buku 1)