Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Partisipasi Perempuan dalam Partai Politik di Indonesia

Partisipasi Perempuan dalam Partai Politik di Indonesia

oleh: Sawunggalih     Pengarang : Prasetya Utama dkk
ª
 
Proses demokratisasi yang masih lemah dapat lenyap dengan seketika. Inilah dilema yang dihadapi Indonesia dalam kurun waktu transisional seperti sekarang ini. Berbeda dengan transisi 1967-1971, yang ditandai dengan pergantian rejim (replacement) di mana tak ada elemen-elemen rejim lama yang ikut ambil bagian dalam rejim baru. Dengan demikian rejim baru dapat mengambil kebijakan dan tindakan yang drastis, memutus garis dengan rejim lama. Meskipun pemerintah yang dibentuk sebagai hasil lanjutan dari Pemilu 1999, dari segi demokrasi prosedural telah legitimate, tapi pemerintah yang ada tetaplah merupakan gabungan kekuatan dari rejim otokratik dan kekuatan demokratik. . Oleh karenanya pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati tidak mungkin dapat melakukan satu perobahan yang drastis - kalaupun mereka mau - yang dapat menarik garis putus dari struktur dan praktek rejim otoritarian, tanpa menimbulkan bencana baru bagi bangsa dan negara. Perobahan yang ada akan lambat dan menyakitkan, karena kekuatan riel politik-lah yang menentukan ke arah dan sejauh mana perobahan dapat didorong tanpa menimbulkan bencana baru bagi bangsa. Elitisme dalam demokrasi tidak sehat, apalagi korupsi, kolusi, dan nepotisme masih berkembang. Negara dan Masyarakat: Partisipasi Politik Pancasila dan komunitas politik Indonesia merupakan hasil sejarah dan politik, kedua hal ini mengkristal dalam Pancasila. Ketidakpercayaan pada lembagai dan pilihan politis; Argumentasi yang tidak setuju terhadap demokrasi langsung menurut logika merupakan suatu argumentasi yang melawan sesuatu yang berkaitan dengan demokrasi. Elitisme dalam demokrasi tidak sehat, apalagi korupsi, kolusi, dan nepotisme masih berkembang. Individu yang rasional akan bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa yang akan aku peroleh dari partisipasiku ini dan apa yang tidak akan kuperoleh jika aku gagal berpartisipasi? Ini menjadi pegangan oleh orang-orang yang tidak berpartisipasi yang yang paling rasional. Akibatnya adalah mereka akan dipimpin oleh orang-orang dari kelompok yang aktif berpartisipasi. Untuk memastikan, tanpa melaksanakan kewajiban mereka dengan serius, basis untuk kebebasan di dalam masyarakat yang politis akan dikikis. Kedua-Duanya elitism demokratis dan pilihan masuk akal adalah pemain musik teori: yang terdahulu sebab partisipasi politik bermakna untuk mencapai suatu akhir pemeliharaan penting otoritas politis; dan yang belakangan sebab keikutsertaan adalah suatu alat yang digunakan oleh mereka lebih lanjut . Dalam participatory teori lihat keterlibatan politis: keikutsertaan lebih dari suatu metoda pengaturan; melayani tujuan yang lebih luas cementing masyarakat sipil bersama-sama, dan mendidik warganegara dalam seni penguasaan. Mayoritas individu di (dalam) demokrasi liberal adalah penerima keputusan pilihan pasif, dibanding/bukannya warganegara [yang] dengan aktip membentuk politik. Sebagai ganti(nya) demokrasi kuat ditawarkan [di mana/jika] politik adalah sesuatu (yang) dilaksanakan oleh, tidak untuk, warganegara. Partisipasi politik dilihat sebagai yang baik dengan sendirinya; sesuatu yang semua individu dapat berperan dalam dan dengan mana mereka kembang;kan tidak hanya kemampuan/ wewenang politis mereka sendiri, tetapi juga menempa mata rantai yang membentuk masyarakat sipil. Bentuk Partisipasi Politik Ini mengacu pada format rutin, [yang] reguler dan kelembagaan [dari;ttg] tindakan politis seperti partai politik dan menarik perhatian kelompok. Tiga pertimbangan diusulkan untuk mengapa yang lebih tinggi kelas sosial mengambil bagian lebih secara ekstensif dan sangat dalam politik kelembagaan dibanding kelas pekerjaan; o mereka memiliki suatu tingkat yang lebih tinggi pendidikan; dan o pesta dan kelompok politis lain tidak efektip, atau gagal, dalam memobilisasi warganegara; mereka melainkan target warganegara yang paling kaya untuk pertimbangan donasi politis mereka dan kuasa. Point 1 dan 2 mencerminkan pandangan keikutsertaan yang society-centred: yaitu., orang-orang mengambil bagian oleh karena sumber daya atau karakteristik sosial mereka memiliki. Alasan : wanita-wanita itu adalah lebih sedikit mewakili lapisan masyarakat lapisan dan elite politis, sehingga merasakan bahwa mereka tidak punya minat akan mengambil bagian sudah termarginalisasi. Tetapi dalam hal kebijakan, komitmen parpol untuk mencalonkan perempuan berkualitas di nomor urut dan daerah yang berpotensi untuk terpilih, masih dipertanyakan. Apalagi dalam Pemilu 2009.
Diterbitkan di: 04 April, 2008   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.