Kisah memilukan korban gempa dan tsunami di Aceh Desember 2004 dipotret dalam buku terbitan Pusat Data dan Analisa Tempo
(PDAT), 2005, ini. Seorang karyawati Telkom Banda Aceh, Ita, selamat setelah tergulung ombak dan terdampar di sebuah gedung bank, sementara suaminya hilang ditelan bencana. Ada lagi kisah lebih mengharukan tentang seorang istri karyawan Telkom yang melahirkan di tengah luluh lantaknya Aceh pada hari paling hitam dalam sejarah negeri ini; sementara anaknya yang lain tewas terhempas gelombang. Bayi yang baru dilahirkan itu beberapa lama sempat “hilang” setelah dititipkan ayahnya kepada seorang mahasiswi. Untunglah sang ayah, setelah beberapa bulan mencari, akhirnya menemukan bayi itu di Kerawang, Jawa Barat, di rumah famili seorang oditur mahkamah militer.
Kisah-kisah para korban itu mengawali buku yang diterbitkan atas kerja sama PDAT dan PT Telkom ini. Selanjutnya adalah kisah perjuangan orang-orang Telkom memulihkan
telekomunikasi. Bahkan pada saat tsunami menghajar kota, beberapa teknisi Telkom Banda Aceh berjuang menyelamatkan aset sementara keluarganya berjuang antar hidup dan mati untuk menyelamatkan diri dari terjangan tsunami. Hasilnya Flexi masih bisa dioperasikan sementara semua sarana telekomunikasi lain praktis tak berfungsi. Lalu dalam menangani korban, segera posko-posko didirikan, bantuan dari Medan dikirim, serta konseling bagi korban selamat.
Para teknisi jaringan--yang dikenal dengan Jawara—diberangkatkan dari berbagai kota. Mereka dengan sigap menarik-narik kabel di tengah luluh lantaknya kota, memperbaiki STO (Sentral
Telepon Otomat) di antara mayat-mayat membusuk., agar fasilitas vital segera tersambung telepon. Kemudian sampailah pada tahap-tahap memulihkan telekomunikasi setelah fasilitas vital seperti Pendopo Gubernuran, rumah sakit, posko-posko, tersambung telepon.
Adapun empat tahap pemulihan itu adalah pertama membuka isolasi NAD dan sebagian Sumatera Utara dengan mendatangkan telepon satelit Byru dan Pasti. Tahap II: menyediakan telepon setelit dan link satelit VSAT untuk kepentingan public, serta mendatangkan genset dan menghidupkan sentral. Pemulihan tahap III: mengoperasikan kembali STO yang masih dapat dioperasikan serta mengimplementasikan Flexi. Tahap IV: rekonstruksi fasilitas telekomunikasi di NAD, termasuk perbaikan gedung, lokasi kantor dan penempatan alat-alat telekomunikasi yang dipergunakan, yang ditargetkan selesai seluruhnya pada Agustus 2006.
Menurut Direktur Telkom saat itu, Kristiono, tahapan memulihkan telekomunikasi dilakukan dengan cepat, baik rehabilitasi maupun rekonstruksi.
Pengadaan dan pendistribusian telepon satelit dan peralatan lain ke daerah-daerah yang terparah dihajar bencana, seperti Calang, Lamno, Meulaboh, dan Pulau Simeuleu, merupakan perjuangan heroik. Mendapatkan helikopter guna mengangkut VSAT dan peralatan lain, tidak mudah.
Tak lupa buku ini juga menceritakan proses pemberian bantuan perangkat dari para vendor seperti Ericsson, Motorola, dan lain-lain.
Buku ini merupakan salah satu dokumen tertulis yang berharga tentang bencana paling dahsyat abad ini. Melalui buku ini pula, kita tidak bisa menarik pelajaran, khususnya mengenai tahap-tahap memulihkan telekomunikasi pasca bencana secara cepat dan efektif. Bagaimanapun telekomunikasi merupakan sarana vital, yang harus segera dipulihkan guna mendukung evakuasi korban, penyaluran bantuan, dan sebagainya. Kita memang tidak berharap bencana akan terulang, tapi di negeri seribu bencana ini, gempa terus saja terjadi. Namun sayang, kadang pelajaran dari bencana sebelumnya tak sungguh-sungguh diindahkan ketika menangani bencana berikutnya. Masih saja terjadi ketidaksiapan, kesemrawutan penyaluran bantuan dan penanganan korban. Mungkin Indonesia bangsa pelupa.