Untuk pertama kali, Mukhtar Mai menuangkan pengalaman getirnya dalam
buku yang sangat menyentuh hati. Sebuah kisah ihwal penderitaan
dan kehinaan, juga mengenai keberanian dan keyakinan yang besar.Pada
22 Juni 2002, Mukhtar Mai dijatuhi
hukuman oleh Dewan Adat
di desanya
dengan cara diperkosa beramai-ramai. Dengan dipegangi oleh empat orang
pria, ia ditelanjangi dan disetubuhi secara massal. Tak hanya itu, ia
pun dipermalukan di depan umum. Di hadapan tiga ratusan penduduk desa,
perempuan berjilbab ini diperintah berjalan pulang sembari telanjang.Hukuman
tersebut ditimpakan kepada Mai untuk "membayar" tindak kejahatan tanpa
bukti yang dituduhkan kepada adik laki-lakinya, Abdul Syakur (12
tahun). Syakur didakwa memiliki affair dengan seorang gadis dari kasta
yang lebih tinggi. Menjelang menit-menit akhir pelaksanaan hukuman,
Mukhtar Mai meminta belas kasihan, memohon
agar adiknya dibebaskan, dan
membaca al-Qur''anâ€"satu-satunya bacaan yang dihapalnya.Buku yang bagus banget.
Kehormatan keluarga dan kehormatan agama jadi
topeng untuk melegalkan hukum adat yang bener - bener (menurut aku) ga
berperikemanusiaan! Tapi hal ini malah membuat Si tokoh utama untuk
bangkit, melawan demi harga dirinya dan berjuang bagi anak - anak di
desanya dengan mendirikan sekolah agar tidak terjebak seperti dia
lagi,karna tidak dapat membaca dan menulis. Perjuangan yang patut
dihargai.
Resensi lain tentang In The Name of Honor (Atas Nama Kehormatan)