Bingung juga
untuk nentuin termasuk rumpun-rumpunan buku apakah The Food of Love ini— yang di-bahasa Indonesiakan menjadi “Santapan Cinta”.
di toko buku ditaruh di antara gunungan chicklit, bersampul warna-warni khas chicklit, tapi dikarang sama cowok bernama Anthony Capella,
dan ceritanya bukan cuma tentang kehidupan
satu cewek
dengan latar belakang hingar bingar kota besar.
Tersebutlah tiga tokoh utama, Laura Patterson, cewek dari Amrik yang mendapat kesempatan untuk belajar sejarah seni di universitas Roma selama satu semester. Tommaso Massi, cowok Italia tampan, pelayan di restoran kelas satu, selalu jatuh
Cinta secara berkala ,dan kelemahannya adalah turis berambut pirang. Bruno, sahabat sekaligus kolega Tommaso, berbeda 180 derajat dengan Tommaso dalam hal cinta, dan chef yang sangat handal.
Tommaso tertarik dengan Laura dan berusaha memikatnya dengan makanan-makanan buatan Bruno yang ia akui sebagai buatannya. Bruno yang memang handal dan diam-diam juga mencintai Laura sejak pertama kali melihatnya berjalan-jalan di sebuah pasar, akhirnya mencurahkan segenap perasaannya melalui makanan-makanan tersebut.
Makanan-makanannya bukan sekedar pizza, spaghetti, fettuccine, tapi haute cuisine; verdure in pinzimonio, spaghetti al’amatriciana, abbachio alla cacciatore, carciofi alla romana, asparagi con zabaione, ricotta dolce; vin santo, biscotti, baru sebagian kecil di antaranya.Eits…kopi luwak asal Indonesia juga ada disebut loh! Makanan-makanan Bruno yang tercipta atas nama cinta kemudian laris manis waktu ia membuka ‘restoran’ sendiri walaupun masih dengan konsep Tommaso si ahli masak yang brilian dan sayangnya inspirator dari penciptaan hidangan-hidangan itu sama sekali clueless.
Klimaks buku ini ada dua kali, satu saat Laura memergoki perselingkuhan Tommaso yang kemudian disusul dengan terbongkarnya ‘siapa koki-siapa pelayan’, dan bagaimana kehidupan mereka bertiga berubah sama sekali karenanya. Kedua atau saat mendekati penghujung cerita, Bruno yang setelah klimaks pertama ‘melarikan diri’ ke sebuah desa dan berteman ‘dekat’ dengan seorang wanita – yang berjasa menyadarkan Bruno untuk berhenti menjadi sekedar penonton dan berani melakukan ‘action’ untuk meraih impiannya—tanpa disangka-sangka bertemu lagi dengan Laura.
Entah buku ini termasuk chicklit atau bukan, yang pasti The Food of Love pasti bakal memuaskan para pecinta kuliner Italia, menambah khazanah pengetahuan (halaaaahhh….:P) orang-orang biasa tentang segala rupa
makanan “High End” ala Italiano, hiburan yang lumayan segerr buat orang-orang yang sekedar mau tahu. So, bon appetite everyone! Silahkan dicicipi sendiri santapan cintanya…
Resensi lain tentang The Food of Love