Imam Abul-Hasan Ali bin Muhammad al-Mawardi, yang
lebih dikenal
dengan Imam Mawardi,
adalah ulama besar dengan
serangkaian keahlian
dan kepakarannya, baik di bidang fikih, etika
maupun politik. Bukunya al-Ahkam as-Sulthaniyyah wal-Wilayat ad-Diniyyah
merupakan karya yang sangat orisinal yang membedah tentang teori
politik Islam, dan kerapkali menjadi rujukan dan kutipan para pengamat
politik Islam modern.
Dalam buku tersebut, Imam Mawardi dengan tajam
mengurai tentang hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh para
pejabat negara.
Karya Imam Mawardi lainnya yang juga bermutu dan sangat monumental adalah kitab Adabud-Dunia wad-Dien .
Kitab ini merangkum seribu lebih renungan tentang nasihat, pitutur,
pesan moral, dan bimbingan rohani. Taburan hikmah tersebut dicomot
dari hadits Nabi, ucapan sahabat, khalifah, ulama, penyair, orang yang bijak
bestari, dan percikan renungan Imam Mawardi sendiri. Buku ini sangat
potensial sekali dalam membimbing pembacanya menuju ke kehidupan yang
sarat ilmu, berperadaban, berakhlak karimah, berperilaku lurus, dan
berhati bersih.
Buah pena dari tokoh besar
yang wafat pada tahun 450 H ini menjadi bacaan wajib bagi para pelajar
SMU di Mesir selama lebih dari tiga puluh tahun. Sedemikian bernasnya
kitab Adabud-Dunia wad-Dien , sehingga karya ini pun berkali-kali dipublikasikan di Eropa.
Bagi
para peminat ilmu, karya besar tersebut jelas sangat berarti sekali
dalam memandu mereka meniti ke kehidupan yang lebih baik. Untuk mereka
yang piawai dalam memahami Bahasa Arab tentu sangat senang, karena bisa
menyimak langsung naskah aslinya. Namun bagaimana dengan mereka yang
awam dan terbata-bata dalam memahami Bahasa Arab?
Dalam
konteks inilah, kita harus berterima kasih kepada Islamuna Press yang
telah menyunting, menerjemahkan, sekaligus menerbitkan kitab Adabud-Dunia wad-Dien
ini ke dalam Bahasa Indonesia. Buku yang diberi judul dengan “Hikmah
kehidupan” ini rencananya akan diterbitkan secara berseri. Sementara
dalam seri kesatu ini memuat percikan hikmah tentang akal, hawa nafsu,
ilmu, dan akhlak ulama.
Tentang
akal misalnya, bila Nabi mengatakan dalam haditsnya bahwa akal adalah cahaya
dalam hati yang membedakan antara haq dan bathil. Maka senapas
dengannya, Imam Mawardi berujar: “Tahukah Anda, dengan akal hakikat
segala perkara terungkap dan perbedaan antara baik dan buruk tersibak.”
Sementara seorang penyair mengatakan: “Teman
setia seseorang adalah akalnya dan musuhnya adalah kebodohannya.”
Itulah sebabnya, mengapa kecerdasan—sebagai buah dari akal yang
cemerlang, menjadi pesona dan daya pikat tersendiri bagi seseorang.
Magnet inilah yang dimiliki oleh Ibnu Abbas, sebagaimana tersimbul
dalam narasi berikut:
Seseorang bertanya
kepadanya: “Ke mana perginya ruh setelah pisah dari badan?” Dengan
tangkas dan cerdas, Ibnu Abbas menjawab, “Sama dengan perginya api saat
minyak habis.”
Akal yang cerdas dan brilian
memang sebuah anugerah. Namun ia bukan merupakan peranti satu-satunya
dalam membimbing manusia untuk meraih kesejatian. Bahkan tidak sedikit
orang yang kebablasan, sehingga menuhankan akal. Dalam kaitan ini, maka
agama dan akhlak mesti terus mengawali kemampuan akal ini, sebagaimana
yang diujarkan oleh Umar bin Khaththab: “Modal seorang laki-laki adalah
akalnya, kemuliaannya terletak pada agamanya, dan harga dirinya ada
pada akhlaknya.”
Bila akhlak menjadi
parameter dari harga diri seseorang, maka lebih-lebih terhadap ulama.
Maka akhlak menjadi bagian yang inheren dan instrinsik dengan dirinya.
Dari permenungan Imam Mawardi, setidaknya ada empat akhlak yang harus
melekat dalam diri orang yang berilmu.
Pertama , tawadhu dan tidak ujub. Karena Nabi mengatakan: “Sesungguhnya ujub itu akan memakan hasanah
(kebaikan) sebagaimana api melalap kayu bakar.” Seorang ulama juga
berujar: “Barangsiapa yang takabur dan merasa tinggi dengan ilmunya,
Allah akan merendahkannya, dan barangsiapa yang tawadhu'' (rendah hati)
dengan ilmunya, Allah akan mengangkatnya.”
Kedua ,
mengamalkan ilmu. Dalam hal ini, Ali bin Abu Thalib mengingatkan:
“Orang-orang tidak mau mencari
ilmu tidak lain karena mereka melihat
sedikitnya orang yang berilmu mengambil manfaat dari ilmunya.” Seorang
ulama juga berucap: “Buah dari ilmu adalah pengamalan, sedang buah amal
ialah balasan/pahala.”
Ketiga ,
tidak pelit dengan ilmu. Orang yang berilmu harus mengajarkan ilmunya
kepada yang lain, karena pelit dengan ilmu adalah tercela dan suatu
kezaliman. Sebuah ujaran hikmah menyebutkan: “Barangsiapa yang
menyembunyikan ilmu, maka ia seolah-olah bodoh tentangnya.”
Keempat ,
bersifat mendidik dan lemah lembut. Seorang yang berilmu harus selalu
memberi nasihat dan bimbingan dengan lemah lembut, memberikan
kemudahan-kemudahan kepada muridnya dan memotivasinya untuk giat
belajar. Perbuatan ini mendatangkan pahala besar baginya
Resensi lain tentang Hikmah Kehidupan