Selama manusia mau berpikir dan merenung tentang
berbagai hal, selama itu pulalah hikmah bertebaran di mana-mana dan
sungguh mudah dipetik. Itulah yang dilakukan oleh Maulana Wahiduddin
Khan melalui bukunya ini. Beragam peristiwa
kehidupan yang boleh jadi
dianggap remeh dan sepele oleh sebagian orang, bagi tokoh yang ahli di
bidang sains dan studi-studi keislaman ini menjadi lautan hikmah yang
sayang untuk dilewatkan. Karena berbagai renungan dan pengamatan
sosialnya yang dituangkan dalam buku ini, insya Allah akan mampu
mencerahkan dan melejitkan kemampuan Anda.
Dengan reputasi keilmuannya
yang telah teruji, penulis produktif ini menyajikan kupasan yang
mengasyikkan sekali perihal kiat-kiat meraih kesuksesan dalam hidup
ini.
Dari beragam peristiwa kehidupan yang
dijumpai dan diamati Wahidudin Khan, penulis lebih dari 200 buku ini
menyumbangkan kearifan yang manis sekali bagi Anda, terutama bagi
mereka yang gampang murung dan lesu dalam menyikapi kegagalan dalam
hidup. Padahal kegagalan adalah hal biasa dalam kehidupan. Hanya
bagaimana Anda menyikapi kegagalan tersebut, sehingga bisa menjadi
cemeti dan menjadi tangga menuju kesuksesan. Itulah kunci yang dimiliki
oleh banyak tokoh besar yang lahir di dunia ini. Sukses gemilang yang
berhasil mereka raih justru buah dari kegagalan demi kegagalan yang
menerpa mereka.
Dalam kehidupan manusia,
hal yang paling penting adalah kemauan untuk bertindak. Menurut
Wahidudin Khan, itulah pelajaran yang bisa diambil dari bangsa Jepang.
Selain dijatuhkannya bom di kota Hiroshima dan Nagasaki dalam Perang
Dunia Kedua pada tahun 1945, Jepang juga sesungguhnya pernah dilanda
guncangan yang sangat dahsyat, yaitu gempa bumi di Kanto pada awal
September 1923, sehingga menyengsarakan seluruh penduduk di Jepang
bagian timur.
Namun bangsa Jepang tidak
mengalah pada rasa kehilangan dan frustasi, dan tidak membuang-buang
tenaga untuk melakukan protes politik yang sia-sia, karena negara
mereka telah dibom yang menyebabkan keruntuhan dan kehancuran. Tetapi,
seperti diketahui, mereka mampu menguasai perasaan tertindas dan mulai
merekonstruksi kehidupan nasional mereka dengan sebuah keinginan dan
cara. Meskipun gempa bumi telah mengakibatkan kematian dan kerusakan,
namun mereka mampu menggembleng diri untuk membangun kehidupan mereka
yang lebih cerah.
Dan kini Jepang telah
menjadi suatu pusat aktivitas teknologi, bahkan melejitkan dirinya
dalam bidang industri melampaui Inggris, Eropa dan Amerika. Menariknya
lagi, mengingat Jepang tidak memiliki sumber daya alam seperti yang
dimiliki oleh negara-negara industri maju lainnya.
Dari
kasus Jepang ini, penulis kemudian mengurai benang merah: bahwa
kepuasan diri sendiri dan adanya perasaan nyaman dapat menjadi
faktor-faktor yang sangat merusak dalam proses kemajuan seorang manusia
selama hidupnya. Hal ini bukan berarti kesengsaraan itu sendiri adalah
sesuatu yang menguntungkan. Tidak. Ia justru merupakan percikan api
yang membakar jiwa seorang manusia dan menggerakkannya untuk melakukan
hal yang lebih besar.
Pelajaran hidup tidak
hanya tersaji dari siklus peradaban yang menerpa banyak bangsa di
dunia—seperti Jepang itu, namun hikmah kehidupan juga bisa dicomot dari
lakon kehidupan yang dialami oleh individu manusia. Misalnya dari
seorang penjahit, yang dijumpainya telah mahir sekali dalam menjahit.
Kualitas hasil jahitannya sungguh sempurna, baik terhadap orang yang
mempunyai tubuh normal, maupun terhadap mereka yang bertubuh kurang
sempurna atau cacat—seperti berbadan bungkuk. Dengan kemahirannya itu,
si penjahit kemudian bisa mengelola suatu toko yang makmur di jantung
kota.
Namun prestasi yang diraih tukang
jahit itu bukan instan, melainkan hasil dari perjuangan yang lama dan
cukup melelahkan. “Saya telah meraih posisi seperti sekarang ini dengan
menaiki anak tangga dan bukan dengan ift,” ucap penjahit itu. Dan
ujaran itulah yang dicatat dan diingat betul oleh Wahiduddin Khan.
Untuk
menggapai kesuksesan dalam hidup ini memang bukan asal jadi dan serta
merta jatuh dari langit. Tidak ada tombol-tombol yang tinggal Anda
tekan dan kemudian secara otomatis meraih cita-cita Anda. Anda hanya
dapat memperoleh kemajuan dengan selangkah demi selangkah. Kemajuan
jarang dapat diraih dengan sekali lompatan dan hentakan. Dengan
menggunakan sarana sebuah tangga, barulah Anda dapat maju bahkan hingga
Anda memiliki lift sendiri. Namun Anda tidak dapat meraih kesuksesan
hidup dengan mulai menaiki lift!
Percikan-percikan renungan seperti inilah yang bertabur dalam buku Psikologi Kesuksesan
ini. Anda beruntung bisa menyimak buku ini, karena Maulana Wahiduddin
Khan, penulis buku ini, sangat cerdas dan tangkas sekali dalam
menggugah pembacanya agar seluruh gelegak kehidupan ini dipandang
secara positif. Intelektual kelas dunia yang lahir di India ini
mengobarkan optimisme yang besar sekali, sehingga tak ada alasan bagi
Anda untuk menghadapi hidup ini dengan murung. Karena di balik jalan
buntu yang menjegal Anda dalam meniti hidup ini, sebetulnya jalan
kesuksesan terbentang luas di hadapan Anda