Pernahkah
kita menghitung
dan menyadari bahwa
dalam setiap langkah kaki yang kita lakukan terdapat banyak sekali
keberuntungan dan anugerah yang kita dapatkan? Ya, beruntung kita masih
punya dua kaki untuk melangkah, masih punya dua tangan; beruntung kita
masih punya dua mata untuk melihat kemana langkah kaki kita; beruntung
masih punya dua telinga untuk mendengar suara-suara dalam langkah kita;
beruntung masih bisa melangkah
dengan sehat, dan masih banyak lagi yang
lain kalau mau dihitung satu persatu. Dan yang terpenting dari semua
keberuntungan dan anugerah itu adalah, kita masih punya waktu untuk
melakukan satu langkah itu dan merasakan semua keberuntungan tersebut.
Seringnya kita
tidak pernah menghitung apalagi
menyadari hal-hal yang sepertinya remeh temeh seperti ini. Dunia
moderen yang menuntut serba cepat dalam segala hal membuat manusia
moderen seakan abai dengan hal-hal kecil dan sederhana semacam itu
dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, jika kita mau meluangkan waktu
sedikit saja untuk mencoba menyadarinya, dan memperhatikan setiap momen
sekecil apapun dalam kehidupan kita, perubahan besar niscaya akan
terjadi dalam kehidupan kita.
Ada sebuah kisah tentang sebuah roda yang dengan
sangat cepatnya meluncur melewati sebuah jala berbatu di antara padang
rumput hijau. Setelah sampai di tujuannya, ia baru menyadari kalau
salah satu jerujiya terlepas dan hilang. Maka mulailah ia kembali
menyusuri jalan yang pernah ia lewati, kali ini dengan pelan-pelan,
memperhatikan setiap bagian jalan yang ia lewati sebelumnya, berharap
ia menemukan jerujinya yang hilang. Dengan berjalan pelan-pelan
tersebut, ia baru menyadari banyak hal indah yang bisa dilihat yang
selama ini terlewat olehnya. Hijaunya rerumputan, barisan semut yang
membawa remah-remah, belalang-belalang yang tengah menggerogoti
pucuk-pucuk daun, kupu-kupu warna-warni, dan banyak lagi. Sampai-sampai
ia melupakan tentang jerujinya yang hilang, kalau saja seekor kupu-kupu
tidak mengatakan kepadanya bahwa ia melihat sebuah jeruji yang terlepas
di suatu tempat.
Cherish Every Moment,
buku karya Arvan Pradiansyah,
seorang pembicara publik, fasilitator dan kolumnis di beberapa media
massa nasional ini menawarkan semacam panduan bagaimana untuk menikmati
hidup yang indah setiap saat. Dengan ditulis dalam bentuk wawancara
imaginer seorang penanya dengan narasumber (atau seorang murid dengan
gurunya), Arvan mencoba untuk menyampaikan perspektif positif dari
berbagai hal seputar kehidupan yang seringkali disalahpahami. Dari
lembar demi lembar dalam buku ini dia terus saja mengajak kita untuk
menggapai kehidupan dengan penuh kebahagiaan dalam kondisi apapun.
Dalam buku ini terdapat 24 bahasan yang dikemukakan
oleh Arvan yang jika dirangkum,
adalah tentang 4 hal: berhubungan
dengan diri sendiri, berhubungan dengan orang lain, berhubungan dengan
keduniaan, dan berhubungan dengan Tuhan; yang kesemuanya diarahkan
untuk mencapai kebahagiaan hidup.
Salah satu bahasan yang menjadi judul buku ini
“Cherish Every Moment” adalah ajakan untuk menghargai dan memanfaatkan
setiap waktu, setiap saat, bahkan setiap detik dalam kehidupan kita
untuk kebahagiaan. Pikiran kita cenderung disesaki oleh kecemasan dan
ketakutan tentang hari esok dan masa depan yang masih menjadi misteri,
sehingga kita tidak bisa menikmati apa yang nyata-nyata ada di depan
kita: hari ini, saat ini, detik ini. Arvan mengajak untuk membangun
mindset bahwa hari ini adalah hari terakhir dalam kehidupan kita,
sehingga kita akan berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk diri
kita dan orang lain, seolah tidak akan ada lagi kesempatan di hari
esok. Hari ini adalah hadiah terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita.
Kalau kita menyadari hal ini, maka kita tidak akan melewatkan satu
momen pun dalam kehidupan kita. Kita akan benar-benar masuk ke dalam
kekinian dan terserap ke dalam apapun yang sedang kita lakukan. Dengan
demikian, hidup akan terasa sangat indah. (hal. 11). Senada dengan
baris-baris puisi penyair Inggris Whalt Whitman: “Gathered ye
rosebuds while ye may // Old time is still a flying // And this same
flower that smiles today // Tomorrow will be dying”; ataupun ungkapan bahasa latin dari Horace: “Carpe Diem, quam minimum credula postero!” Raihlah hari ini, hanya sedikit yang bisa kita percaya dari masa depan.
Bahasan lain dalam buku ini tak kalah menariknya,
seperti bahwa hidup adalah pilihan, bahwa kita lah yang memegang
kendali sepenuhnya atas segala sesuatu yang berkaitan dengan hidup
kita. Kata “pilihan” atau “memilih” menjadi semacam “abracadabra” untuk
membuat segalanya sesuatunya berubah. Dengan melakukan pemilihan secara
sadar atas apa yang akan dilakukan, niscaya tidak akan ada keterpaksaan
atau pun penyesalan dalam melakukan pekerjaan atau apapun. Untuk itulah
perlunya ada jeda untuk merenung dan memikirkan segala konsekuensi atas
pilihan yang akan diambil.
Masing-masing bahasan yang terdapat dalam buku ini
bisa dibaca secara terpisah atau acak tanpa harus berurutan, sesuai
dengan bahasan yang menurut pembaca paling menarik. Pembaca bisa
memulai dari bahasan ke-15 tentang cinta, misalnya, yang menurut Arvan,
cinta adalah hubungan sebab akibat. Mencintai adalah sebab dan dicintai
adalah akibat. Cinta yang universal dan fundamental adalah mencintai
sesama manusia. Bahwa inti setiap agama adalah cinta. Atau pembaca bisa
saja langsung menuju ke bahasan penutup buku ini yang merupakan bahasan
yang sangat bertenaga dengan judul “Mengapa Hidup Sering Tidak Adil?”
Anggapan bahwa hidup tidak adil adalah anggapan yang salah dan
berbahaya. Dengan mengatakan hidup tidak adil sama saja mengatakan
bahwa Tuhan tidak adil. Tuhan adalah Maha Adil, dan Dia mengatur alam
semesta dengan keadilan-Nya. Adanya anggapan bahwa hidup tidak adil,
karena manusia cenderung tidak melihat keseluruhan alur kehidupan,
tetapi hanya parsial semata. “Jawaban” Arvan dalam penutup buku ini
tentunya melegakan bagi siapapun yang tengah merasakan “ketidakadilan”
hidup.
Jika kita cukup jujur untuk mengakui dan mengingat
kembali, apa yang dikatakan Arvan dalam buku ini bukanlah hal yang sama
sekali baru. Hal yang sama pernah disampaikan oleh guru-guru kita,
tokoh-tokoh agama kita, para sufi atau tokoh-tokoh spiritual,
tokoh-tokoh budaya, ataupun tokoh-tokoh masyarakat, bahkan orang yang
paling dekat dengan diri kita seperti orang tua kita. Sayangnya, kadang
kita abai dan melupakan begitu saja nasihat-nasihat kehidupan tersebut.
Atau, jika kita bisa mengingat kembali, apa yang dikatakan Arvan
sebenarnya telah berulangkali ditulis entah dalam bentuk buku-buku
penuntun, buku-buku swa-bantu, buku-buku psikologi popular, atau bahkan
novel dan puisi.
Resensi lain tentang Cherish Every Moment – Menikmati Hidup Yang Indah Setiap Saat