Dongeng untuk orang dewasa, itulah kata-kata yang memikat hati saya
untuk memiliki novel Stardust. Saya penasaran kenapa novel ini disebut
seperti itu.Dongeng Neil Gaiman kali ini bermula dari suatu
desa di pedalaman Inggris. Desa tersebut adalah desa yang luar biasa,
bukan hanya
karena dikelilingi tembok tinggi, tetapi juga karena di
balik rimbunnya hutan yang terletak di sebelah desa, tersembunyi negeri
para peri yang terlarang untuk dikunjungi.Interaksi para peri
dan manusia hanya terjadi sembilan tahun sekali, yaitu pada festival di
padang yang memisahkan desa tembok dan hutan para peri. Pada festival
inilah seorang putra petani, Dunstan Thorn (kelak menjadi ayah dari
Tristan Thorn) terpikat oleh seorang gadis penjual bunga kristal.Kisah
cinta Dunstan Thorn dan gadis penjual bunga kristal berakhir seiring
dengan berakhirnya festival. Namun akhir
Kisah cinta tersebut berujung
pada kisah cinta lain, yang masih panjang dan penuh petualangan. Kisah
cinta kedua tersebut adalah kisah cinta milik Tristan Thorn, pujaan
hatinya Victoria Forrester, dan sebuah (atau seorang?) bintang jatuh... Novel
ini dikatakan sebagai dongeng karena di dalamnya Neil Gaiman menulis
tentang pemuda di negeri yang jauh, Putri yang cantik, sihir, peri,
hutan gaib, perjalanan penuh petualangan, pertarungan antara baik dan
buruk, Raja, Ratu, cinta sejati dan bahagia selamanya. Khas impian
anak-anak di masa kecil.Kenapa dikatakan untuk dewasa? Saya
tidak tau pasti alasan yang tepat. Mungkin karena sebelum limapuluh
halaman pertama kita bisa menemukan adegan yang cukup membuat jantung
berdebar:)Mungkin karena di dalamnya terdapat pembunuhan-pembunuhan
keji karena perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh kakak kepada
adiknya, atas perintah sang ayah. Mungkin karena konspirasi-konspirasi
jahat demi mendapatkan sang bintang jatuh. Mungkin juga karena
ketiga-tiganya.Penilaian saya? Saya suka kisah ini, cukup
menarik untuk membuat saya mengucapkan ''WOW'' (sejak kapan kisah Gaiman
tidak menarik?) Tapi setertarik-tertariknya saya akan kisah dongeng
untuk dewasa ini, saya menyerah untuk membaca ''Stardust'' sepenuh hati
pada halaman 86, belum genap separuh halaman. Sisanya saya hanya
bolak-balik halaman. Istilahnya membaca cepat, langsung ke bab
terakhir. Untuk membolak-balik halaman itu pun perlu perjuangan loh!
Inginnya sih saya tutup saja, geletakin di lantai dan saya tinggal
tidur.
Resensi lain tentang Serbuk Bintang - Stardust