Sesungguhnya yang takut (bercampur kagum) kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah
ulama (QS. Fathir 35: 28)
Tersebutlah Bal’am, ulama bani Israil. Terkenal saleh
dan luas
pengetahuaanya, sampai-sampai ilmu yang melekat pada dirinya
seperti melekatnya kulit pada daging. Akan tetapi,
ia menguliti dirinya sendiri
dengan melepaskan tuntunan ilmu yang membentenginya dari perbuatan
buruk. Ia terjerumus mengikuti hawa nafsu,
tidak lelah mengejar dunia.
Ulama seperti Bal’am,
bisa jadi ada di sekitar kita. ulama model
inilah yang kelak merusak
umat. Masyarakat harus diperingatkan agar
tidak terperdaya. Ulama ini dikenal dengan sebutan ulama su’, ulama
yang memilih dunia (hubbud dunya) daripada akhirat. Tingkah polahnya
membingungkan umat, ucapannya bertentangan degan perbuatannya, menyuruh
tetapi tidak melakukan, menjilat penguasa, tergesa memberi fatwa, tidak
menguatkan keimanan, merupakan sebagian ciri yang penulis paparkan dari
sifat-sifat ulama model ini.
Ulama juga manusia yang tak luput dari noda dan dosa. Karenanya,
bisa jadi ia salah memberi fatwa atau juga terjerembab oleh nikmatnya
harta dan popularitas. Namun, yang lebih parahnya lagi adalah bila ia
menyembunyikan kebenaran (ilmunya) untuk kepentingan harta, penguasa,
atau bahkan kepentingan dirinya. Ulama model ini, jika ditegur malah
membela diri dengan memberikan dalil-dalil yang mendukung pendapatnya.
Ia memilih gengsi dan kehormatan dirinya daripada hati nuraninya. Ini
berbahaya, bisa menyesatkan umat, karenanya umat Islam mesti kritis.
Fenomena kasus Ajinomoto bisa jadi gambaran ulama-ulama kita. di
satu pihak ada yang mengharamkan, tapi di lain pihak justru
menghalalkannya sesuai pesanan. Belum lagi fenomena ulama karbitan,
asal bisa ceramah dan berfatwa ia digelari ulama, tidak jelas kualitas
keilmuannya.
Tidak semua ulama seperti itu. Cukup banyak ulama yang berada pada
rel yang benar, hidup zuhud seperti Rasulullah, berani menyatakan yang
benar itu benar dan yang salah itu salah, takut kepada Allah, berakhlak
karimah, rajin beribadah, meilih akhirat dari pada dunia. Ulama-ulama
seperti itulah yang layak digelari pewaris para nabi.
Buku ini layak dibaca bagi mereka yang mengaku ulama, juga untuk
masyarakat umum. Diharapkan ulama maupun umat dapat bersikap kritis
dalam rangka memperbaiki segala tatanan kehidupan, pribadi maupun
masyarakat.
Resensi lain tentang NODA NODA ULAMA