Halaman Utama Shvoong > Buku > MEMBELI WAKTU

.

MEMBELI WAKTU

Pengarang : Saiful Khamisi
Review by : SaifulKhamisi
Kunjungan: 21
kata: 900
Diterbitkan di: Februari 23, 2008
Seperti
biasa
Rudi,
Kepala
Cabang
di
sebuah
perusahaan
swasta
terkemuka
di
Jakarta,
tiba
di
rumahnya
pada
pukul
9
malam.
Tidak
seperti
biasanya,
Imron,
putra
pertamanya
yang
baru
duduk
di
kelas
dua
SD
yang
membukakan
pintu.
Ia
nampaknya
sudah
menunggu
cukup
lama. "Kok,
belum
tidur?"
sapa
Rudi
sambil 
mencium
anaknya.
Biasanya,
Imron
memang
sudah
lelap
ketika
ia
pulang
dan
baru
terjaga
ketika
ia
akan
berangkat
ke
kantor
pagi
hari.
Sambil
membuntuti
sang
ayah
menuju
ruang
keluarga,
Imron
menjawab,
"Aku
nunggu
Ayah
pulang.
Sebab
aku
mau
tanya
berapa
sih
gaji
Ayah?" "Lho,
tumben,
kok
nanya
gaji
Ayah?
Mau
minta
uang
lagi,
ya?" "Ah,
enggak.
Pengen
tahu
aja." "Oke.
Kamu
boleh
hitung
sendiri.
Setiap
hari
Ayah
bekerja
sekitar
10
jam
dan
dibayar
Rp
400.000,-.
Dan
setiap
bulan
rata-rata
dihitung
25
hari
kerja.
Jadi,
gaji
Ayah
dalam
satu
bulan
berapa,
hayo?" Imron
berlari
mengambil
kertas
dan
pensilnya
dari
meja
belajar,
sementara
ayahnya
melepas
sepatu
dan
menyalakan
televisi.
Ketika
Rudi
beranjak
menuju
kamar
untuk
berganti
pakaian,
Imron
berlari
mengikutinya. "Kalau
satu
hari
ayah
dibayar
Rp
400.000,-
untuk
10
jam,
berarti
satu
jam
ayah
digaji
Rp
40.000,-
dong,"
katanya. "Wah,
pinter
kamu.
Sudah,
sekarang
cuci
kaki,
bobok,"
perintah
Rudi. Tetapi
Imron
tak
beranjak.
Sambil
menyaksikan
ayahnya
berganti
pakaian,
Imron
kembali
bertanya,"Ayah,
aku
boleh
pinjam
uang
Rp
5.000,-
nggak?" "Sudah,
nggak
usah
macam-macam
lagi.
Buat
apa
minta
uang
malam-malam
begini?
Ayah
capek.
Dan
mau
mandi
dulu.
Tidurlah." "Tapi,
Ayah..."
Kesabaran
Rudi
habis.
"Ayah
bilang
tidur
!"
hardiknya
mengejutkan
Imron.
Anak
kecil
itu
pun
berbalik
menuju
kamarnya.
Usai
mandi,
Rudi
nampak
menyesali
hardikannya. Iapun
menengok
Imron
di
kamar
tidurnya.
Anak
kesayangannya
itu
belum
tidur.
Imron
didapatinya
sedang
terisak-isak
pelan
sambil
memegang
uang
Rp.15.000,-
di
tangannya. Sambil
berbaring
dan
mengelus
kepala
bocah
kecil
itu,
Rudi
berkata,
"Maafkan
Ayah,
Nak.
Ayah
sayang
sama
Imron.
Buat
apa
sih
minta
uang
malam-malam
begini?
Kalau
mau
beli
mainan,
besok''''
kan
bisa.
Jangankan
Rp
5.000,-lebih
dari
itu
pun
ayah
kasih." "Ayah,
aku
nggak
minta
uang.
Aku
pinjam.
Nanti
aku
kembalikan
kalau
sudah
mena
bung
lagi
dari
uang
jajan
selama
minggu
ini." "Iya,iya,
tapi
buat
apa?"
tanya
Rudi
lembut. "Aku
menunggu
Ayah
dari
jam
8.
Aku
mau
ajak
Ayah
main
ular
tangga.
Tiga
puluh
menit
saja.
Ibu
sering
bilang
kalau
waktu
Ayah
itu
sangat
berharga.
Jadi,
aku
mau
beli
waktu
ayah.
Aku
buka
tabunganku,
ada
Rp
15.000,-.
Tapi
karena
Ayah
bilang
satu
jam
Ayah
dibayar
Rp
40.000,-
maka
setengah
jam
harus
Rp
20.000,-Duit
tabunganku
kurang
Rp
5.000,-.
Makanya
aku
mau
pinjam
dari
Ayah,"
kata
Imron
polos. Rudi
terdiam.
Ia
kehilangan
kata-kata.
Dipeluknya
bocah
kecil
itu
erat-erat. Saya
tidak
tahu
apakah
kisah
di
atas
fiktif
atau
kisah
nyata.
Tapi
saya
tahu
kebanyakan
anak-anak
orang
kantoran
maupun
wirausahawan
saat
ini
memang
merindukan
saat-saat
bercengkerama
dengan
orang
tua
mereka.
Saat
dimana
mereka
tidak
merasa
"disingkirkan"
dan
diserahkan
kepada
suster,
pembantu
atau
sopir.
Mereka
tidak
butuh
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • amibroker
  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie

.