“Sudut pandang manusia itu seperti
labirin sehingga kemungkinan-kemungkinan harus dibiarkan terbuka.
Jika sang
Pencipta itu ada, siapakah Dia itu?
dan jika
tidak ada sang Pencipta, bagaimana
dunia ini ada?” (Gaarder, 1999, Maya)
Tidak ada yang persis sama seperti
itu terlihat dan Gaarder pandai dalam melihat hal ini. Ia
adalah seorang
pembimbing, pencerita, dan kita semua adalah murid-murid yang jauh tertinggal
ilmunya dan
akan memberi kita tes seberapa jauh pengetahuan yang kita miliki.
‘Maya’ diterbitkan tahun 1999 adalah
buku yang luar biasa. Jika anda sudah pernah membaca ‘Dunia Sophie’, anda akan
sependapat kalau buku ini lebih penuh intrik, kompleks, dan menantang. Jika ada
belum pernah membaca ‘Dunia Sophie’ –karya yang sukses di dunia-, sangat disarankan
anda memulainya dari sana sebelum masuk ke dunia ‘Maya’.
Jika anda mencoba mengukur waktu
anda membaca buku ini, anda akan menemukan bahwa anda akan sangat tidak sabar
mengetahui akhir dari cerita. Gaarder sangat cermat menemukan gaya tulisan
sehingga membawa pembacanya merasakan sensasi keingintahuan. Saat anda berpikir
ia sudah kehilangan alurnya, ia akan membuktikan bahwa pendapat anda
salah. Kemungkinan besar anda melupakan
detil khusus yang dijelaskan sembelumnya, dan tidak satupun dari hal itu…..pada
akhirnya persis sama seperti kelihatannya.
“Maya” berlatar belakang Kepulauan
Fiji Taveuni dan Spayol. Di Kepulauan Fiji inilah seorang penulis berkebangsaan
Inggris yang kesepian karena kehilangan istrinya, mencari pelarian. Bagi
pasangan Spayol, pulau itu melambangkan hasrat dan bagi seorang ahli biologi
kebangsaan Norwegia yang kehilangan anaknya, pulau itu adalah tempat yang kaya
akan flora dan fauna –merefleksikan evolusi
Karakter yang berbeda dengan latar
belakang yang juga berbeda berada di tempat yang sama. Kisah mereka
masing-masing disuguhkan kepada pembaca. Tapi tidak dengan cara yang gambang….namun
misterius!!
Ana, wanita Spanyol mewakili selera
lukis Goya ‘La Maya Desnuda’ menggambarkan seorang wanita yang hidup 200 tahun
lalu. Dan kata-kata yang selalu ia dan temannya Jose ulangi berkali-kali
seolah-olah merupakan sebuah manifesto.
Teori evolusi, Tuhan, waktu, ruang
dan masa lalu disajikan bersama-sama untuk menghasilkan paduan pas antara mitos
dan ilmu pengetahuan. Para karakter adalah alat yang digunakan Gaarder dan
melalui dialog-dialog antara mereka, pembaca dipaksa untuk bertanya dan mencari
jawabannya, untuk diri sendiri atau demi kelangsungan ceritanya.
Gaya bahasanya tidaklah kompleks
namun isi dari buku ini seolah penuh dengan metafora. Pada satu sisi teori
evolusi nampak mendominasi cerita, hampir menggantikan semua, dan novel ini
kehilangan segi fiksinya. Tapi hal ini hanya akan dilihat sebagai pembeda jika
anda tidak begitu tertarik dengan teori evolusi.
Bacalah buku ini dan biarkan diri
anda ditarik ke dalam cerita yang sepertinya tidak masuk akan namun sebetulnya
kisah itu adalah kehidupan kita sendiri. Buku ini dapat dinikmati oleh seluruh
keluarga dan menjadi topic perdebatan yang menarik.
Nikmatilah sensasi membaca buku yang membuat
anda berpikir….
Resensi lain tentang Maya