• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Buku>Gerakan 30 September: Antara Fakta dan Rekayasa

.

Gerakan 30 September: Antara Fakta dan Rekayasa

oleh : JakaTarub     

Pengarang : Center for Information Analysis
Soeharto mati meninggalkan warisan sejarah kontroversial, termasuk
G30S. Soeharto disebut-sebut terlibat dalam peristiwa
tragis itu. Oleh
saksi dan sejumlah pelaku sejarah , serta sejarawan, dikatakan Soeharto
mengetahui rencana penculikan para jenderal tapi tidak berusaha
mencegahnya. Itulah salah satu titik kontroversi G30S. Buku yang terbit
pertama kali pada 1999 ini menyebutkan ada enam titik kontroversi (hlm.
6-9). Pertama, siapa dalang gerakan 1 Oktober 1965? Kedua, mengapa
Mayjen Soeharto menghalangi Mayjen Pranoto Reksosamodro menghadap
Presiden Soekarno untuk didaulat menjadi Men/Pangad, jabatan yang
ditinggalkan Letjen Ahmad Yani? Ketiga, mengapa Soeharto seolah-olah
mengulur waktu untuk merebut Gedung RRI dari tangan G30S? Keempat,
mengapa penggalian mayat para jenderal baru dilaksanakan pada 4 Oktober
1965, padahal lokasinya sudah diketahui pada 3 Oktober? Kelima, adakah
konspirasi antara Letkol Untung Syamsuri (pemimpin lapangan), Kolonel
Latief, Sjam Kamaruzzaman, dan Mayjen Soeharto? Keenam, mengapa Ketua
Partai Komunis Indonesia, D.N. Aidit, dibunuh ketika dia tertangkap di
Boyolali, padahal kesaksiannya di pengadilan akan sangat membantu untuk
menyingkap tabir G30S yang sebenarnya? Yang menarik pada buku ini
adalah pengungkapan pertemuan Kolonel Latief dan Soeharto di RSAD Gatot
Soebroto beberapa jam menjelang penculikan para jenderal. Waktu itu
anak Soeharto yang berusia tiga tahun, Tommy, ketumpahan sup panas dan
dilarikan ke rumah sakit itu. Di sana pada sekitar pukul 21.00, Latief
menemui Soeharto. Menurut pengakuan Soeharto, dalam wawancara dengan
surat kabar Del Spiegel Jerman Barat pada Juni 1970, kedatangan Latief
untuk membunuhnya. "Tapi, nampaknya ia tidak melaksanakan berhubung
kekhawatirannya melakukan di tempat umum," ujar Soeharto. Pengakuan
Soeharto itu bertentangan dengan jawaban yang diberikan kepada penulis
bernama Brachman pada 1968, yang mengatakan bahwa Kolonel Latief datang
untuk menanyakan kesehatan anaknya. "Saya terharu atas
keprihatinannya," kata Soeharto (hlm 18). Sementara itu, Latief sendiri
mengatakan: "Yang sebenarnya saya pada malam itu di samping memang
menengok putranda yang sedang terkena musibah itu, sekaligus saya
melaporkan akan diadakannya gerakan pada esok pagi harinya untuk
menggagalkan Coup d''Etat dari Dewan Jenderal, di mana beliau sudah tahu
sebelumnya." (hlm 20). Buku ini juga mengungkap kesaksian Boengkoes,
yang muncul di media massa setelah Soeharto lengser. Boengkoes adalah
serma pelaku langsung G30S. Saat gerakan berlangsung ia mendapat tugas
menangkap Mayjen MT Haryono. Kesaksian Boengkoes dalam buku ini
merupakan kompilasi dari wawancara sejumlah media massa, setelah
Boengkoes dibebaskan dari LP Cipinang pada 25 Maret 1999. Salah satu
poin kesaksiannya adalah bahwa para jenderal itu tidak disiksa terlebih
dahulu sebelum ditembak. Ini sangat berbeda dengan yang
digembar-gemborkan Orde Baru bahwa para jenderal itu digambarkan
disiksa bahkan dikatakan disayat-sayat, apalagi penis dipotong. "Para
jenderal itu dipapah sampai bibir sumur baru kemudian ditembak,"
ujarnya. Kesaksian Boengkoes mempertegas hasil Selain itu, kata
Boengkoes, "Dan tidak benar kalau ada pesta dan nyanyi-nyanyi (seperti
film tayangan TV). Suasana saat itu benar-benar sepi...." Masih ada
sejumlah kesaksian pelaku sejarah mengenai G30S, yang menarik untuk
diketahui sebagai perbandingan dengan sejarah G30S versi Orde Baru yang
tidak akurat atau sengaja dipalsukan.
Diterbitkan di: Januari 30, 2008

Komentar

Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.