Pemutarbalikan
sejarah oleh Soeharto mengenai
Serangan Umum 1 Maret 1949 menjadi
pembahasan
buku yang terbit tahun 2000 ini (cetakan I). Selama 32
tahun Soeharto berkuasa, buku-buku sejarah, bahkan film,
menggambarkan bahwa Letkol Soeharto lah penggagas Serangan Umum
tersebut. Film ”Janur Kuning”, misalnya, melukiskan kepahlawanan
Soeharto muda ketika memimpin tentara Republik menyerbu Yogyakarta,
yang kala
itu dikuasai oleh Belanda. Dengan serangan itu, mata dunia
terbuka bahwa Republik Indonesia masih ada. Tapi, benarkah penggagas
serangan itu Soeharto? Lalu di mana peran Sri Sultan Hamengkubuwono
IX
dan Panglima Besar Sudirman? Mengenai siapa pemrakarsa, muncul
kontroversi pada 1985 ketika harian Suara Merdeka edisi 15
Oktober 1985 memuat wawancara KPH Soedarisman Poerwokoesoemo, mantan
wali kota Yogyakarta (1947-1966). Soedarisman mempertanyakan, dari
manakah gagasan serangan berasal; apakah dari Soeharto, dari Bambang
Soegeng yang menjadi atasan Soeharto, Sudirman, Nasution, ataukah
dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX?
Dalam tanya jawab antara Dwipayana
dan Soeharto untuk mendapatkan jawaban Soedarisman, dan disiarkan
oleh pers pada 5 November 1985, Soeharto berkata, ”Apakah
Soedarisman) tidak percaya kalau inisiatifnya seorang Komandan
Brigade (Soeharto?” Sri Sultan HB IX, seperti dikutip buku Momoar
Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno, pernah bertutur:
”Sayalah yang semula membicarakan gagasan itu dengan Jenderal
Sudirman yaitu minta izinnya untuk mendapatkan kontak langsung dengan
Soeharto, ketika itu berpangkat mayor, untuk menjalankan tugas
melaksanakan gagasan saya.” Hal itu juga terungkap dalam buku
biografi Sultan HB IX, Takhta untuk Rakyat (1982). ”HB IX
kemudian dapat mendatangkan komandan gerilya, Letkol Soeharto. Dalam
pertemuan di rumah kakaknya, GBPH Prabuningrat, di kompleks keraton
sekitar 13 Februari 1949, ia menanyakan kesanggupan Soeharto untuk
menyiapkan suatu serangan umum dalam waktu dua minggu. Itulah
satu-satunya pertemuan HB IX – Soeharto dalam hubungan dengan
serangan umum 1 Maret 1949.” Berdasarkan bukti-bukti dan keterangan
saksi sejarah, buku ini menyimpulkan bahwa pemrakarsa serangan adalah
Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Akan tetapi
Letkol Soeharto memegang kendali operasi dan merupakan penentu
strategi di lapangan.
Resensi lain tentang Kontroversi Serangan Umum 1 Maret 1949