Cerita pendek atau yang biasa disebut “
cerpen” sebagai salah satu
genre
sastra memiliki keunikan tersendiri. Ia bisa menceritakan
pengalaman penulis dan bisa juga hanya merupakan imajinasi
entah-berantah yang sengaja direka oleh
pengarang. Seperti karya sastra
pada umumnya, batasan fakta dan fiksi dalam cerpen tidak jelas. Bahkan
jika mengacu pada wacana postmodern, seperti kajian teks ala Roland Barthes (Baca: Merayakan Kematian Pengarang, Mission Impossible: Menggugat Missi Pengarang dalam Karya Sastra) fakta dalam karya sastra, tidaklah penting.
Tapi bagaimana jika cerpen itu menyajikan sesuatu yang faktual. Ia
disusun dari fakta, peristiwa yang benar-benar disaksikan ataupun
dialami langsung oleh pengarang. Seperti yang dikisahkan oleh Rosidi
dalam bedah cerpen “Opera Zaman”
di Komunitas Sendang Mulyo Semarang,
Rabu (29/11) malam.
Eros, panggilan Rosidi, membeberkan latar belakang penciptaan
cerpennya yang berjudul “Ngadikan”. Cerita dalam cerpen itu diakuinya
benar-benar dialami penulis. Tokoh-tokoh dalam cerpen adalah tokoh yang
sebenarnya. Tidak ada yang disamarkan. Dan tokoh saya dalam cerpen itu,
juga mengacu pada saya pengarang.
“Saya sangat terkesan oleh Ngadikan yang memiliki semangat hidup
yang luar biasa,” ucapnya bersemangat. Ngadikan adalah nama teman
seprofesi Eros sebagai pembuat bata di tempat tinggalnya, di sebuah
desa di Kudus.
Lalu apa perlunya pengarang menceritakan perihal latar belakang
penciptaan karyanya, bahkan mengklaim bahwa cerita yang ditulis adalah
benar-benar yang dialami?
“Inilah yang menjadi penyakit cerpenis kita. Pengarang kita itu malas. Termasuk si Rosidi ini. Wong pencetak boto ya di ceritak-ceritake,”
kritik Eko Prasetyo Utomo. Prasetyo adalah cerpenis asal Semarang yang
beberapa karyanya telah diterbitkan di beberapa media lokal dan
nasional. Beberapa kumpulan cerpennya juga sudah dibukukan.
Menurut Prasetyo apa yang dilakukan oleh Rosidi tidak menarik,
karena ia menceritakan sesuatu
dengan apa adanya. “Cerpen yang baik
itu, ketika membacanya akan membekas. Kita selalu teringat. Sayang di
sini cerita disajikan secara linier” ungkap Prasetyo, setengah kecewa.
Selain itu Prasetyo juga menilai judul Opera Zaman yang dipakai
dalam kumpulan cerpen (kumcer) itu kurang menarik. Menurutnya lebih
menarik jika Opera Wadas dijadikan sebagai judul kumcer. Opera Wadas
adalah salah satu judul cerpen dalam kumcer.
Saya yang waktu itu mengikuti diskusi, mengajukan ke salah seorang
penulis dalam kumpulan cerpen Opera Zaman yang kebetulan hadir. Saya
sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Prasetyo bahwa sebagian besar
cerpen dalam kumpulan cerpen itu disampaikan secara konvensional.
Terlebih mendengar pengakuan dari Eros yang mengatakan bahwa apa yang
ditulisnya adalah fakta.
“Jika Roland Barthes mengatakan pengarang telah mati, maka anda di
sini telah menghidupkannya. Dengan adanya pengakuan anda itu, telah
mereduksi pemaknaan pembaca. Karya sastra yang harusnya memiliki makna
yang universal telah terbelenggu oleh ruang dan waktu. Di luar
pernyataan anda itu, cerpen anda tidak memiliki makna apa-apa” kritik
saya.
Bagi saya tidak selayaknya penulis merecoki pemaknaan pembaca.
Ketika ia selesai menulis, teks itu sudah sepenuhnya menjadi milik
pembaca. Biarkan pembaca yang akan memaknai teks itu.
Meski sepakat dengan beberapa pandangan Prasetyo, namun saya
menyampaikan bahwa dirinya terkesan memaksakan menilai karya-karya
dalam kumpulan cerpen yang terlalu faktual menjadi tidak menarik. “Saya
seorang guru, tapi saya tak menceritakan itu dalam cerpen saya” ucapnya.
Saya sepakat jika Prasetyo mengatakan itu untuk mendorong penulis
lebih mengeksplorasi idenya tidak sebatas berhenti pada hal-hal yang
faktual. Namun jika kemudian memberikan anjuran agar pengarang menulis
di luar kesehariannya, ini jelas tidak tepat. Bukankah akan lebih baik
jika kita menulis sesuatu yang paling dekat dengan kita, sesuatu yang
kita alami. Bagaimana jika kita menulistentang sesuatu yang kita
sendiri tidak mengetahuinya?
Saya curiga Prasetyo menggunakan pendekatan yang berbeda dengan gaya
yang dipakai oleh sebagian pengarang dalam kumcer itu yang sebagian
besar menggunakan style realis. Sementara-mungkin- Praetyo kurang suka
dengan gaya itu -bisa jadi ia menyukai karya surealis.
“Oke kalau anda mengatakan jika cerpen yang faktual itu tidak
menarik, mengapa anda menanyakan kebenaran dari fakta yang disampaikan
cerpen itu. Terus, kalau kemudian anda mengatakan penulis kurang
mengeksplorasi, lantas eksplorasi semacam apa. Jika kemudian eksplorasi
yang anda maksud itu kemudian mematikan gaya pengarang, yang realis itu
kemudian beralih ke surealis, jelas ini sangat memaksakan”
“Saya tak bermaksud mematikan kreativitas penulis. Justru dengan
ejekan ini saya harapkan penulis mau terus berproses,” jawab Praestyo.
Eksplorasi yang dimaksudkan oleh Prasetyo adalah perlunya penulis
menggali sesuatu yang ingin disampaikan dari sudut pandang yang paling
menarik. “Misalnya Eros mengeksplorasi lumpur itu. Ada apa dengan
lumpur itu.. Ini bisa dieksplorasi lebih menarik, ketimbang
menceritakan kisah tukang bata itu. Pram-Pramoedya Ananta Toer- juga
penulis realis. Tapi eksplorasinya menarik,” terangnya.
Diskusi bedah buku kumpulan cerpen “Opera Zaman” itu diadakan oleh
Komunitas Sendang Mulyo bekerja sama dengan Komunitas Merapi. Sebagai
panitia pelaksana LPM Manunggal dan komunitas sastra Histeria. Hadir
dalam diskusi itu Rosidi selaku salah seorang penulis, Eko Prasetyo
Utomo selaku pembedah, Elissiti dan Gendhot Wukir yang mewakili editorial dan komunitas Merapi selaku penggagas kegiatan ini.
Cerita dalam kumcer Opera Zaman itu merupakan karya para anggota komunitas milis Merapi.
Sebelumnya ada sekitar 200-an naskah, kemudian dipilih 10 terbaik.
Cerpen ini menyajikan tema tentang petualangan. Buku ini dijual seharga
Rp 20.000. Sedianya hasil penjualannya akan disumbangkan untuk
pengembangan pendidikan anak
Resensi lain tentang Opera Zaman: Perlukah Faktualitas dalam Cerpen