Nugroho Suksmanto,
siapa sih pemilik nama ini. Sepertinya masih asing
dalam dunia
penulisan, khususnya karya Sastra. Tapi bukunya “Petualangan
Celana Dalam” diterbitkan Gramedia, penerbit yang memiliki nama besar
di Indonesia. Jangan-jangan?
Pertanyaan dan (kemudian) kecurigaan itulah yang barangkali muncul
dalam benak orang ketika pertama kali mendengar nama penulis buku
kumpulan
cerpen (kumcer) “Petualangan Celana Dalam” yang baru-baru ini diluncurkan di Semarang.
Seperti yang juga dirasakan oleh Darmanto Jatman dan Triyono Lukmantoro
yang menjadi pembedah dalam diskusi peluncuran buku “Petualangan Celana
Dalam” itu di Fakultas
Sastra Undip pada Senin (12/12) malam. Keduanya
mengaku kurang memiliki informasi yang cukup tentang penulis.
Benar, Nugroho memang bukan penulis terkenal, yang telah melahirkan
banyak karya. Ini kali pertama buku kumpulan cerpenya diterbitkan.
Selama ini
ia menekuni dunia usaha, di bidang properti di kawasan
Kuningan, Jakarta. Namun sebelumnya, dari pengakuannya diketahui ia
sudah beberapa kali menulis puisi. Memang tidak diterbitkan dalam
bentuk buku, tapi puisinya ini telah dibuat sketsa oleh para pelukis
piawai.
Dari pengakuanya pula, dia rupanya punya masa lalu di Semarang.Semasa kecil tinggal di desa Magersari yang berbatasan dengan kampung
Pendrikan, setting yang juga terdapat dalam cerpennya. Pernah studi di
University of Shoutern California, kuliah di ITB. Almamater yang disebutkan terakhir menjadi cerita dalam salah satu cerpennya (Tidak untuk Bermain Catur?).
Triyanto Triwikromo
melihat kehadiran Nugroho dalam ranah Sastra sebagai tren baru yang ia
sebut sebagai “Awam Menulis”. Bisa jadi ini yang membuat buku penulis
yang tidak terkenal ini bisa diterbitkan oleh Gramedia, karena melihat
ada pasar baru. Tren “Awam Menulis” ini adalah seri dari tren-tren
sebelumnya, diantaranya “Selebriti Menulis” seperti yang dilakukan oleh
beberapa artis yang menulis cerpen ataupun novel.Namanya juga tren,
tentunya terkait dengan pasar, dan akan meledak lalu meredup tak lama
kemudian.
Atau jangan-jangan karena penulis yang punya latar belakang
pengusaha, jadi bisa saja ia meminta Gramedia menerbitkan bukunya.
Bukankah di zaman sekarang ini uang berkuasa?
Dugaan di atas bisa saja benar, tapi dari pengakuan penulis tidaklah
demikian. Menurutnya, Gramedia tetap memberlakukan seleksi naskah yang
akan diterbitkan secara ketat. Analoginya, jika karyanya bisa
diterbitkan, berarti secara kualitas memang dianggap layak oleh
penerbit. Cuma, variabel apa yang dipakai untuk mengukur kelayakan itu.
Bisa jadi seperti dugaan Triyanto itu, karena Gramedia sedang
menciptakan tren “Awam Menulis” dan tentu saja motifnya adalah pasar!
Darmanto melihat banyak celah yang sebenarnya bisa dieksplorasi dari
beberapa karya Nugroho itu. Ia mengatakan, ketika membaca judul sebuah
cerpen, ia kemudian membayangkan cerita itu menurut versinya.
“Saya mengira
Petualangan celana dalam itu pengalaman celana dalam
yang dipakai oleh beberapa orang. Di pakai presiden misalnya, terus
dipakai siapa lagi. Eh, ternyata kok tidak seperti yang saya
bayangkan,” katanya.
Baginya, apa yang dilakukan oleh Nugroho adalah hal baru. Bisa
semacam dekonstruksi. Tapi bisa saja ngawur. “Orang ketika saya tanya
apakah dia sudah membaca buku ini, ternyata belum,” ucapnya, setengah
mengejek.
Sementara Triyono berangkat dari pertanyaan tentang siapa penulis itu, kemudian melihat dari dua cara pandang Barthes dan Faucoult. Bagi Barthes (Baca: Kematian Pengarang),
teks suatu karya sastra tidak perlu dikaitkan dengan penulis. Namun
sebaliknya, bagi Foucoult sebuah karya tidak bisa lepas dari
penciptanya. Oleh karenanya Foucoult juga mendekati karya dari biografi
pengarang.
Pertanyaan kemudian, apakah yang diceritakan oleh Nugroho itu adalah
pengalaman pribadinya?Dari sana kemudian Triyono menyimpulkan bahwa
menulis cerpen adalah sebagai bentuk aktualisasi diri Nugroho.
Terkait judul cerpen berjudul “Petualangan Celana Dalam”, Nugroho
mengatakan cerita itu dari pengalaman pribadinya. Suatu kali dia
mendapati pembantunya yang sedang mengepel lantai dalam posisi setengah
membungkuk tampak tak memakai celana dalam.“Katanya ia gatal-gatal kalau memakai celana dalam,” akunya.
“Ya, dicuci yang bersih dong biar nggak gatal kalau dipakai,” timpalnya kepada si pembantu.
Kemudian ia minta si pembatunya itu untuk memakai celana dalam. “Eh,
nggak taunya ia pakai celana dalam saya,” kata Nugroho. Peristiwa
itulah yang kemudian mengilhami cerita “Petualangan Celana Dalam” yang
sebenarnya ia bukan judul yang ia berikan.“Waktu itu saya mengajukan beberapa judul (semuanya tak dipakai).
Tapi penerbit menyarankan memakai yang ini. Mungkin ada pertimbangan
lain,” terangnya.
Paparan beberapa pembicara itu pun mendapat tanggapan dari beberapa
peserta diskusi. Ada yang bertanya tentang standar estetika dalam karya
sastra, ada pula yang menanyakan tentang sisi filosofis celena dalam.
Adapula yang cuma sekadar berkomentar tapi sekaligus menyanggah apa
yang disampaikan oleh pembicara.
Jika Triyanto mengatakan kemunculan Nugroho sebagai tren Awam Menulis, Aulia
malah menganggap para pembicara itu yang awam yang tak mengerti
persoalan sebenarnya. Menurutnya karya sastra dalam era postmodern ini
tidak lagi menjadi produk individu, tapi hasil kerja kolektif. Dalam
posisi ini, karya sastra ditentukan oleh beberapa faktor. Tidak hanya
proses kreatif dan penciptaan, tapi sisi produksi dan juga distribusi.
Begitu juga dengan penilaian Triyono bahwa teks Nugroho yang
valusentris. Menurut Aulia penilaian itu adalah hasil pembacaan
Triyono, bukan yang diinginkan oleh pengarang dalam hal ini Nugroho. Di
sinilah teks berbicara.
Bagaimana dengan anda, apakah anda sepakat dengan pandangan beberapa kritikus itu, atau punya cara pandang yang berbeda?
Resensi lain tentang Petualangan Celana Dalam: Tren awam menulis sastra