Tulis ringkasan Anda di sini.
FILSAFAT AKHLAK IBN MISKAWAIH
A. Konsep Manusia Menurut Ibn Miskawaih
Menurut Ibn Miskawaih penciptaan yang tertinggi adalah akal sedangkan yang terendah adalah materi. Akal
dan jiwa merupakan sebab adanya alam materi (bumi), sedangkan bumi merupakan sebab adanya tubuh manusia. Pada diri manusia terdapat jiwa berfikir yang hakikatnya adalah akal yang berasal dari pancaran Tuhan. Dalam diri manusia terdapat tiga daya jiwa, yaitu daya bernafsu (
al-Nafs al-Bahimiyyah), daya berani (al-Nafs al-Sabu’iyyah), dan daya berfikir (al-Nafs al-Natiqah). Daya bernafsu dan berani berasal dari unsur materi, sedangkan daya berfikir berasal dari ruh Tuhan yang tidak akan mengalami kehancuran.
B. Ajaran Pokok
Keutamaan Akhlak Ibn Miskawaih
Ajaran keutamaan akhlak Ibn Miskawaih berpangkal pada teori Jalan Tengah (Nadzar al-Aus^ath) yang dirumuskannya. Inti teori ini menyebutkan bahwa keutamaan akhlak secara umum diartikan sebagai posisi tengah antara ekstrem kelebihan dan ekstrem kekurangan masing-masing jiwa manusia. Posisi tengah daya bernafsu adalah iffah (menjaga kesucian diri) yang terletak antara mengumbar nafsu (al-Syarah) dan mengabaikan nafsu (Khumud al-Syahwah). Posisi tengah daya berani adalah syaja’ah (keberanian) yang terletak antara pengecut (al-Jubn) dan nekad (al-Tahawwur). Posisi tengah daya berfikir adalah al-Hikmah (kebijaksanaan) yang terletak antara kebodohan (al-Safih) dan kedunguan (al-Balah). Kombinasi dari tiga keutamaan membuahkan sebuah keutamaan yang berupa keadilan (al-‘Adalah). Keadilan ini merupakan posisi tengah antara berbuat aniaya dan teraniaya.
Selanjutnya setiap keutamaan tersebut memiliki cabangnya masing-masing. Hikmah atau kebijaksanaan memiliki tujuh cabang, yaitu ketajaman intelegensi, kuat ingatan, rasionalitas, tangkas, jernih ingatan, jernih pikiran, dan mudah dalam belajar. Iffah atau menjaga diri memiliki 12 cabang, yaitu malu, ketenangan, sabar, dermawan, kemerdekaan, bersahaja, kecenderungan kepada kebaikan, keteraturan, menghias diri dengan kebaikan, meninggalkan yang tidak baik, ketenangan, dan kehati-hatian. Adapun keberanian berkembang menjadi sembilan cabang, yaitu berjiwa besar, pantang takut, ketenangan, keuletan, kesabaran, murah hati, menahan diri, keperkasaan, dan memiliki daya tahan yang kuat atau senang bekerja berat. Sementara keadilan oleh Ibn Miskawaih dibagi ke dalam tiga macam, yaitu keadilan alam, keadilan adat istiadat, dan keadilan Tuhan.
Selanjutnya Ibn Miskawaih berpendapat bahwa posisi jalan tengah tersebut bisa diraih dengan memadukan fungsi syariat dan filsafat. Syariat berfungsi efektif bagi terciptanya posisi tengah dalam jiwa bernafsu dan jiwa berani. Sedangkan filsafat berfungsi efektif bagi terciptanya posisi tengah jiwa berfikir.
C. Pengaruh Pemikiran Filosof Yunani terhadap Ibn Miskawaih
Dalam hal jiwa manusia, yang memiliki tiga daya Ibn Miskawaih memiliki pendapat yang sama dengan Plato dan Aristoteles. Demikian pula mengenai teori Jalan Tengah, Ibn Miskawaih berpendapat sama dengan Plato dan Aristoteles. Hanya saja dalam pemaparan keempat pokok keutamaan itu Ibn Miskawaih lebih banyak dipengaruhi oleh Aristoteles. Perbedaan mencolok antara Ibn Miskawaih dengan Aristoteles terletak ketika membicarakan landasan untuk memperoleh posisi tengah. Aristoteles hanya menyebut akal sedangkan Ibn Miskawaih menyertakan syariat di dalamnya.
Resensi lain tentang filsafat akhlak Ibn Miskawaih dalam perspektif historis