Di akhir
buku pertama, Charlie diceritakan
berhasil lolos
dari kejaran Rafi Sadler --penculik orangtuanya--
dan diamankan oleh Raja Boris dari Bulgaria di dalam sebuah kereta api. The Chase --pengejaran-- dikisahkan dalam kata-kata yang apik hingga kita enggan lepas sebelum merampungkan membaca buku ini. Charlie mendapatkan satu
singa baru sebagai teman petualangannya. Primo adalah singa keenam dalam kumpulan Charlie. Disebut Primo
karena dia berbeda dengan singa-singa lain. Lebih besar, lebih gagah, dan terlihat lebih galak. Namun, Primo tengah tak berdaya karena rahangnya terluka. Setelah digiring oleh
orang kepercayaan Raja Boris menuju Palazzo Bulgaria di Grand Canal --Venezia, Charlie dan teman-temannya segera menyusun rencana untuk segera menemukan orang tua Charlie dan mengembalikan singa-singa ke Afrika. Rencana Charlie mesti tertunda karena penduduk Venezia ternyata sangat mengagungkan singa. Ini bukan sebuah keberuntungan. Edward-- orang kepercayaan Raja Boris mengirim Charlie dan singa-singa ke istana tempat bertahta Raja Doge yang jahat. Tentu ini ada maksudnya. Doge yang sudah tua dan pongah ingin mendapat simpati dari rakyatnya yang sudah tidak memercayainya. Primo didandani agar mirip Singa St. Mark, menjadi taktik Doge untuk mengembalikan kejayaannya. Sementara itu, orang tua Charlie diceritakan berhasil lolos dari tempat penyanderaan dengan dibantu Sergei--kucing yang selama ini jadi pembawa pesan Charlie. Mereka menuju Paris dan bertemu dengan sirkus milik Mayor Tib. Tapi masalah lain muncul. Rafi Sadler berhasil mengendus keberadaan Charlie dan berusaha untuk mendapatkannya. Bukan Charlie namanya kalau enggak bisa lolos dari kejaran Rafi. Bersama singa-singa, Charlie berhasil keluar Venezia menggunakan perahu. Kejutan manis menanti Charlie. Seperti apa kejutannya?
Resensi lain tentang Lionboy: The Chase