*Bagian kedua dari sepuluh seri kumpulan surat
Surat-surat Rainer Maria Rilke untuk seorang penyair muda merupakan dokumentasi otobiografi yang luar biasa. Sebuah bacaan di mana, di luar keindahan fondasinya sendiri, telah memfasilitasi pengertian yang lebih jernih akan pandangan dan teknik puitik seorang Rilke.
Surat kedua Rilke untuk seorang penyair muda itu berhubungan dengan penggunaan ironi sebagai suatu teknik puitik. Sarannya dalam hal ini adalah untuk tidak menggunakannya terlalu banyak, khususnya dalam kondisi-kondisi yang tidak kreatif. Penyair-penyair modern menggunakan ironi secara ekstensif dan menganggapnya sebagai suatu bagian penting dari teknik puitik yang tidak dapat dilepas oleh penyair. Ironi mengarah kepada sebuah dunia yang jelas-jelas telah pasti –dengan melihat dari sisi yang berlandaskan pada ketidakpercayaan akan suatu sistem. Nada dari puisi juga digambarkan secara luas dari persepsi yang (cenderung) menghakimi dalam konteks turbulensi sosio-politik di masa itu.
Penyair-penyair modern yang datang setelahnya juga menggunakan ironi secara luas untuk menciptakan pernyataan puitik mereka. Sebagai salah satu contoh klasik adalah The Waste Land karya T. S. Eliot. Eliot secara efektif menggunakan ironi untuk menggambarkan kesengsaraan pasca perang dengan sumber daya ilustrasi yang kaya akan mitos-mitos Kristiani dan Oriental, sekaligus. Mitos-mitos menghadirkan sekumpulan kesadaranan akan hal-hal kemanusiaan dan memiliki symbol-simbol efektif yang secara ekstrim memiliki fungsi dalam semua bentuk seni penciptaan ironi.
Puisi Rilke menandai ketibaan penting akan tradisi puitik dalam suatu masa di mana ia menggerakkan sebuah genre puisi yang berisikan pernyataan puitik yang tajam:
“... Jadi, selamatkanlah dirimu dari tema-tema umum ini dan tuliskan apa saja yang keseharian hidup telah berikan kepadamu; gambarkan kesedihan dan kebahagiaanmu, pikiran-pikiran yang melintasi benakmu, dan keyakinanmu akan suatu keindahan– gambarkan semua ini dengan kepekaan hati, kepasrahan penuh. Dan saat engkau menyatakan dirimu sendiri, gunakan benda-benda di sekitarmu, imaji-imaji dari mimpi-mimpimu, dan obyek-obyek yang kau ingat ...” (Surat-surat untuk Seorang Penyair Muda – Bagian Pertama)
Rilke jelaslah tidak secara keseluruhan menghindari penggunaan ironi dalan puisi. Ia hanya menyarankan si penyair muda itu untuk menghindari penggunaan ironi itu dalam kondisi-kondisi yang tidak kreatif. Puisi kemudian dialihkan menjadi permainan intelektual, permainan dari pernyataan diri seseorang secara puitik, di mana akan mengasingkan para pembaca dari dunia pengalaman pribadi yang intens dari sang penyair – “emosi-emosi dikumpulkan dalam keharmonisan”.