Sebuah Perjalanan
Mataku telah tiba di bukit nan bercahaya
menjelajah jauh dari jalan yang dari sana aku bermula
Demikianlah kita dijemput oleh yang kita tak dapat jemput;
yang memiliki terang diri, bahkan dari kejauhan--
Dan memenuhi kita, bahkan saat kita tidak mencapainya,
menyosok jadi yang berbeda, pun, sulit menyadari,
kita telah jadi; segerak alir menggelombangkan kita
demi menjawab gelombang kita sendiri..
Tetapi yang kita rasakan hanyalah angin menyentuh wajah..
Rainer Maria Rilke
Saat sang penyair berjalan menuju bukit, pandangannya telah tiba di bukit yang lebih jauh dari hadapannya, lebih jauh dari jarak yang dapat ditempuh kaki fisiknya. Terang diri yang datang dari bukit itu menjemput jiwanya dan mentransfomasi jiwa itu secara spiritual sebelum cahaya batinnya sendiri mencapai bukit tersebut. Seakan-akan bukit itu menyapanya, demi merespon segerak alir milik sang penyair sendiri. Tetapi, yang ia rasakan hanyalah sepoi angin yang menyentuh wajah.
Di sini, impresi sensorik digunakan untuk menerjemahkan imaji-imaji yang indah. Ada bukit yang melakukan perilaku manusia seperti “memenuhi”, “menjemput”. Kombinasi indah antara elemen visual dan fisik yang menciptakan situasi di mana sang penyair mengalami kembali intensitas momen yang dinamakan sebagai “emosi menyatu dalam keharmonisan”.
Ringkasan lain tentang Sebuah Perjalanan Rainer Maria Rilke