BAB 2
Keringat dingin yang
sudah membasahi seluruh tubuh para
pengawal yang kelelahan
itu seakan mengalir lebih
deras daripada sebelumnya setelah mendengar kepala pengawal mengatakan hal yang
sebenarnya tentang
tuan putri
mereka.
“Apa maksudmu untuk selamanya?”
meski suara sang
raja menggelegar namun terselip getar ketakutan di situ.
Ada keheningan sejenak di situ,
sebelum sang kepala pengawal menjawab dengan lirih,
”Tuanku, tuan putri sudah tiada.
Ia lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya bersama pemuda itu. Tuan putri
menjatuhkan dirinya ke jurang.....”
Belum sempat pengawal itu
mengakhiri ucapannya, sang raja sudah berdiri di hadapannya dan menariknya
berdiri sembari mencengkeram erat bagian leher seragam pengawalnya dan berkata,
“Coba kau katakan sekali lagi apa
yang ucapkan!”
Sang kepala pengawal bergidik
melihat sinar mata rajanya yang
begitu tajam. Tubuhnya langsung lemas dan
lidahnya begitu kelu sehingga nyaris tidak mampu berkata apapun. Rasa
terkejutnya yang belum hilang saat ditarik sang raja kini menjadi semakin dalam
setelah melihat sinar mata sang raja yang begitu membara. Semua pengawal juga
ikut terkesiap melihat pemandangan itu. Mereka sudah tahu watak rajanya, namun
mereka tetap merasa ngeri mengingat kali ini harus menyampaikan kabar terburuk
bahwa puri kesayangan raja mereka telah tiada.
“Kenapa kau diam saja? Cepat
katakan sekarang juga!” suara raja kini seakan menggetarkan ruangan yang luas
dan sunyi itu.
“Tuanku, tuan .... tuan...
putri... sss....sudah tiada tuanku. Tuan putri memilih untuk... mengakhiri
hidupnya di jurang ujung luar hutan Kabut Putih bersama pemuda itu” jawab sang
pengawal dengan wajah pucat pasi.
“Tidak mungkin... tidak
mungkin.... tidak mungkin putriku akan senekat itu...” sang raja menggumam
tidak percaya.
Genggamannya mulai dilepaskan
dari kerah seragam pengawal itu. Meski masih tetap berdiri tegak, namun aura
wajahnya sudah berubah. Di tengah temaramnya cahaya aula istana, para
pengawalnya masih mampu melihat perubahan wajah raja junjungan mereka. Baru
malam ini, mereka melihat sinar wajah raja yang dianggap titisan dewa itu
muram. Sosok yang biasanya keras dan juga percaya diri itu kini begitu pucat
dan tak berdaya. Namun tiada satu pun pengawalnya yang berani mengusik sang
raja.
“Kalian keluar, semuanya keluar.
Aku ingin sendiri.” Wajah muram sang raja, tiba-tiba saja berubah keras
kembali,
“Cepaaat.................,
sebelum aku berubah pikiran dan membunuh kalian semua untuk menemani
putriku!!!!!” suaranya begitu menggelegar memecah keheningan.
Setelah menghaturkan hormat
dengan takzim, para pengawal segera berhamburan keluar. Mereka nampak begitu
ketakutan dengan amarah sang raja.
Setelah semuanya keluar, sang
raja segera mengambil salah satu tombak besar yang menjadi hiasan di aula itu.
Dengan kemarahan yang luar biasa, dia segera mengayunkan tombak itu ke segala
arah dengan sekuat tenaganya. Dalam sekejap, aula istana yang indah menjadi
porak poranda oleh hantaman tombak sang raja. Nyaris tidak ada satupun benda
yang selamat dari amukan sang raja. Malam itu, sang raja benar-benar
mengeluarkan seluruh amarah dan dukanya dalam tombak itu. Ketegaran hatinya
malam itu seakan-akan telah tercabik-cabik. Saat semuanya sudah hampir tak
tersisa lagi, maka rasa duka mulai menyergapnya lagi. Bayangan putrinya mulai
berkelebat lagi di dalam pikirannya. Tubuh jasmaninya kini sudah semakin lelah
oleh rasa dukanya. Rasa kantuk mulai menyergapnya. Samar-samar dia seakan
melihat bayangan putrinya dan mendengar suara tawa kecilnya. Sesaat kemudian
tubuh besar itu kemudian akhirnya tumbang juga. Sang raja kini terbaring di
ruangan besar itu, sendirian....
(Bersambung...)
Resensi lain tentang Bintang Surga, Cinta tak Berbatas Waktu (Bab 2)