Seorang penulis
perempuan mendapat penghargaan Perempuan Berprestasi
dari Menteri Negara Urusan Perawan Wanita pada tahun 1999, tetapi dia
menolaknya. Ya, penulis itu adalah Ratna Indraswari Ibrahim (lebih
akrab dipanggil Mbak Ratna). Dan saya tidak tahan untuk mengulang
kembali insiden penolakan itu di sini. Rasanya seperti mengingat
Rabindranath Tagore yang menolak gelar Sir dari kerajaan Inggris. Juga
mengingatkan pada penulis Boris Pasternak yang menolak anugerah nobel
(bedanya, Boris Pasternak menolak penghargaan karena ada tekanan dari
pemerintah Kremlin, Rusia). Mbak Ratna seolah memperjuangkan
kepentingan kaum tertindas (termasuk perempuan)
dalam karya-karyanya.
Mungkin, hanya mungkin, dia merasa belum tiba saatnya menerima
penghargaan, sementara perjuangannya masih jauh dari akhir.Mbak
Ratna, penulis ekstra-produktif itu, meluncurkan sebuah buku lagi, kali
ini bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-48. Buku itu berjudul Batu
Sandung, sebuah buku mungil kumpulan tiga
novelet yang ditulisnya
sekira tahun 80-an. ‘Batu Sandung’ sendiri adalah judul novelet yang
pertama disajikan di sini. Dua novelet lainnya adalah ‘Garis Ibu’ dan
‘Hari-hari yang Tercecer’.Melihat dari sekira 400 cerpen yang
telah dibuahkannya, orang-orang memandang Mbak Ratna sebagai penulis
berwawasan feminis. Bisa jadi benar. Namun, Mbak Ratna sendiri mengakui
dalam peluncuran bukunya bahwa sebenarnya dia tidak hanya berjuang demi
perempuan, sebagaimana layaknya kaum feminis; dia lebih memperjuangkan
siapa saja yang terpinggirkan. Ada kalanya, dalam sebuah budaya
tertentu kaum yang termarginalisasi itu disebut perempuan, tetapi di
tempat lain kaum itu disebut penyandang cacat, atau yang lebih
netralnya kini lazim disebut diffable (differently able). Mari
kita buktikan pernyataannya itu dalam Batu Sandung. Dalam cerita
pertama, ‘Batu Sandung’, kita bisa melihat bagaimana Irina yang
terpaksa memakai kruk berjuang melawan egonya dan jungkir balik
membuktikan bahwa dia sebenarnya tak kalah normal ketimbang orang lain.
Irina yakin dirinya bukan model gadis yang harus dikasihani dan
dibantu-bantu dalam ini-itu. Dia benar-benar sebal ketika ibunya
menangisi cacatnya akibat polio dan tentang nasibnya yang belum juga
punya pasangan hidup saat usianya sudah pertengahan 20-an. Dia berjuang
mati-matian untuk memenangkan hati para karyawan ayahnya (yang selama
separuh akhir novelet juga menjadi karyawannya) yang menganggapnya
sebagai seorang gadis, cacat, dan bau kencur. Dia menolak tegas ketika
ibunya mendesak-desak dia agar mencintai Adis, sobat karib sekaligus
sesama karyawan di perusahaan ayah Irina. Di sini, terasa adanya
perspektif feminis, namun yang lebih banyak terasa adalah perang
melawan marginalisasi orang cacat.Dalam ‘Garis Ibu’, pembaca
akan menyelami gelora batin seorang ibu. Si ibu ingin membahagiakan
putra-putranya, namun dia juga ingin mewujudkan mimpinya memiliki anak
perempuan—ibu ini punya dua putra dan tidak punya kesempatan melahirkan
seorang anak perempuan karena tumor menyerang rahimnya setelah
kehamilan keduanya. Maka dia senang luar biasa ketika Murni, putri
sahabat dekatnya, akan ‘dititipkan’ di rumahnya untuk persiapan kuliah.
Namun hatinya terbelah manakala kedua putranya mencintai Murni dan
patah hati karena keduanya tidak dipilih Murni. Dia menginginkan
seorang putri—yang mana Murni akan sesuai—tetapi dia tidak suka jika
gadis ini membuat putranya tidak lagi rukun. Dan kelak, ketika tiba
waktu putra-putranya kawin, dia menginginkan anak menantu dari mereka.
Namun akhirnya dia menemui rintangan lagi? Apa itu? Demi menghormati
kejutan akhir cerita, saya persilakan pembaca menikmati sendiri kisah
tersebut.Para pembaca mungkin akan mendapati ‘Hari-hari yang
Tercecer’ sebagai novelet paling kuat dalam kumpulan ini. Dibeberkan di
sini kisah tentang seorang ibu dua anak yang tidak lagi punya rasa
kepada suaminya. Kisah ini membuktikan dirinya sebagai contoh sebuah
kisah Indonesia yang bermuatan perspektif feminis dengan cara yang
halus. Yang ada bukanlah perjuangan perempuan membebaskan diri dari
superioritas laki-laki yang merendahkannya sehingga dia harus tinggal
di rumah dan menjaga anak-anaknya. Cerita ini berkisah tentang seorang
perempuan yang terlalu dicintai oleh suaminya yang ‘keguru-guruan’.
Sosok suaminya terlalu superior, sehingga dia sendiri merasa terbungkam
di hadapannya. Tak bisa dia ekspresikan diri dan pikiran dalam
rengkuhan suaminya. Si suami, seorang dokter, sangat mencintai
perempuan ini, tetapi cintanya bukan model cinta yang membebaskan.
Cintanya adalah cinta yang memiliki, menguasai. Sehingga, alih-alih
bahagia selamanya dalam cinta, si perempuan pada akhirnya menemui
kendala ketika tak terbendung lagi hasratnya untuk mengaktualisasikan
diri. Dia sudah bosan menjadi ‘obyek’ cinta suaminya. Dia menjadi obyek
bukan karena dia direndahkan, tetapi karena derajatnya terlalu
ditinggikan, hingga seolah terpajang di awang-awang, karen cinta yang
berlebih.Dari gambaran sekilas, tampaklah bahwa novelet Mbak
Ratna menyajikan beragam perjuangan. Perjuangan mengandaikan adanya
kedudukan yang kurang menguntungkan, adanya marginalisasi. Maka, cocok
sekali dengan gagasan Mbak Ratna di bagian awal tulisan ini, bukan? Namun,
ada sejumlah hal yang absen dalam Batu Sandung: detil-detil latar
tempat. Kita akan merasakan adanya kekurangseimbangan dalam
cerita-cerita ini—seperti halnya tulisan-tulisan Mbak Ratna lainnya.
Ketiga novelet ini terasa hanya berisi rentetan kejadian yang
sambung-sinambung, tanpa memberikan deskripsi-deskripsi pemantik
imajinasi pada saat-saat yang diperlukan. Pada sejumlah bagian, akan
lebih kuat jika, misalnya, ada deskripsi kamar yang remang, pantai
berangin kencang, aroma rerumputan, dsb., yang sebenarnya malah lebih
memperkuat emosi cerita dan memudahkan pembaca lebih merasuki dan
berempati dengan karakter-karakter dalam cerita.Pada peluncuran
Batu Sandung di Rumah Budaya Mbak Ratna, Tengsoe Tjahjono, seorang
penyair dan dosen sejumlah universitas di Surabaya, menyebutkan bahwa
karya Mbak Ratna adalah karya yang lebih menitik beratkan pada
pengusungan gagasan. Ucapan ini ada benarnya. Kita bisa melihat ketiga
novelet ini memfokuskan pada gagasan, dan sedikit sekali memberi
perhatian kepada bahasa. Bahasa tak lebih sekadar mobil bak yang
mengangkut gagasan Mbak Ratna tentang perjuangan anti-marginalisasi.
Karenanya, tidak usah heran jika di tempat-tempat tertentu kita akan
temukan kalimat-kalimat yang begitu formal.Namun, ada satu
keunggulan kumpulan novelet ini: Mbak Ratna telah membidik telak pada
sejumlah persoalan terkait kaum terpinggir, dan berhasil
menyampaikannya dalam bentuk cerita yang mengalir. Dan—maaf jika harus
mengulang klise ini!—cerita-cerita Mbak Ratna jauh dari menggurui.
Andai Natalie Goldberg, guru menulis kreatif yang lagi naik daun di
Amerika, sempat bertemu Mbak Ratna, pasti dia akan mengatakan, ‘Fiksi
Mbak Ratna tidak mengatakan, tetapi menunjukkan’. Maka, setelah
menunjukkan sepak terjangnya di medan sastra Indonesia dengan
merampungkan tak kurang dari 400 cerpen dan 10 novelet yang kebanyakan
mengusung tema anti-marginalisasi, anti-peminggiran, anti-penindasan,
maka tepat jika kita katakan bahwa Mbak Ratna memang terus berperang
dalam perjuangan tanpa pungkasan.
Resensi lain tentang Batu Sandung