PERJUMPAAN DUA ETNIS PEDAGANG Judul : Asap Hio di Ranah Minang, Komunitas Tionghoa di Sumatera Barat Penulis : ErniwatiHalaman
: xvi + 175
halaman Penerbit : Penerbit OmbakCetakan : Pertama, Januari 2007Peresensi : Nelti AnggrainiTionghoa—salah satu etnis yang identik punya naluri bisnis yang kuat—berjumpa dengan etnis Minang dengan etos dagang yang tak kalah pekat, apa jadinya? Sejarawan Universitas Negeri Padang juga kandidat doktor Jurusan Sejarah Universitas Indonesia yang cukup intens dan fokus melakukan kajian tentang etnis Tionghoa, Erniwati, mencoba memotret keberadaan dan perkembangan komunitas Tionghoa di Ranah Minang, dan bagaimana mereka berinteraksi dan membaur dengan penduduk pribumi Minangkabau.
Dalam kajian dan pendekatan historis, ia memaparkanya dalam buku Asap Hio di Ranah Minang: Komunitas Tionghoa di Sumatra Barat. Kajian tentang etnis Tionghoa di Indonesia memang cukup banyak, namun kajian khusus tentang komunitas Tionghoa di Sumatra Barat masih sangat sedikit. Padahal, kajian tentang etnis Tionghoa di Sumatra Barat sangat penting dalam mengisi kekosongan historiografi di Indonesia. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Ombak ini, diangkat dari tesis S2 Erniwati di Jurusan Sejarah Universitas Gadjah Mada. Kajian dalam buku ini mengambil rentang waktu mulai dari pertengahan abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Dalam buku ini diulas mendalam asal-usul kedatangan komunitas Tionghoa dan faktor yang mendorong mereka untuk bermukim di Sumatra Barat (halaman 43-63), juga dibeberkan perkembangan populasi dan peranan orang Tionghoa dalam perkembangan ekonomi di Sumatra Barat (halaman 75-98), terakhir penulis buku ini mengurai tentang kehidupan sosial dan budaya dan organisasi orang Tionghoa di Sumatra Barat (halaman 104-139)Kedatangan orang Tionghoa ke Sumatra Barat tak terlepas dari faktor ekonomi. Persentuhan pertama antara etnis Tionghoa dan penduduk pribumi Minangkabau dalam aktivitas perdagangan sudah diawali berabad- abad yang lalu, ketika orang Tionghoa melakukan perdagangan Internasional dengan Raja – raja di wilayah Nusantara (halaman 3). Hubungan dagang antara pedagang–pedagang dari Cina dengan pedagang Minangkabau di pedalaman Sumatra Barat terjadi melalui jalur transportasi sungai yang melintas dari daerah pedalaman sampai keselat Melaka. Jumlah orang Tionghoa yang datang ke Sumatra Barat semakin meningkat ketika jalur perdagangan lada juga dibuka di pantai barat Sumatra sejak abad ke-13, perdagangan dilakukan di pelabuhan pantai Pariaman, Tiku, Ulakan, Koto Tangah, dan pantai Padang