‘ANAK-ANAK MENGASAH PISAU’: SEPERCIK BUNGA API YANG MENJELMA MENJADI SESOSOK DASAMUKA SENI
Anak-anak Mengasah Pisau karya penulis Trianto Triwikromo secara tidak terduga meledak menyusup ke setiap serpihan pembuluh darah kesusastraan dan membakar relung hati penikmat dan juga kritikusnya sehingga segenap panca indra menuntut untuk dipuaskan rasa hausnya akan air bening pemaknaan kehidupan yang ditawarkan Trianto melalui karyanya tersebut. Keterbatasan manusiawi sang penulis dalam menterjemahkan perenungannya ke dalam berbagai bentuk pencitraan melahirkan Dasamuka deformasi dan rekonstruksi dari karya aslinya yang justru tercipta dari eksplorasi mereka yang telah terlanjur gemas untuk segera memenuhi tuntutan panca indra: mata melahap rakus lukisan karya Yuswantoro Adi dan Putut dan film besutan sutradara Dedi Setiadi; telinga dibuai senandung syair puisi goresan Sendang Mulyono dan lagu gubahan Seno; dan hidung, kulit, dan empati dimanjakan oleh teater dan instalasi perupa A.S. Kurnia yang menyambung lidah cerpen aslinya. Dunia mulai berlomba mendengarkan bisikan yang didesahkan oleh Anak-anak Mengasah Pisau. Undangan pementasan berskala internasional pun mulai meminang sang Penulis untuk menyenandungkan syair-syair eksistensialnya; sastra Indonesia semakin dikenal di dunia dan itu semua berasal dari satu titik perenungan sang empu pena!!! Sebuah pertanyaan sederhana kemudian tertasbihkan, Titik nisbi apakah yang mampu menggerakkan hati dan tangan seorang Trianto Triwikromo sehingga terukir bait-bait mendalam yang menceritakan sebuah perjalanan hidup anak manusia yang patut untuk dicerna dan direnungkan secara universal oleh warga dunia?
Resensi lain tentang Anak-anak Mengasah Pisau